BerandaBerita AlumniBerbagi CeritaMENGUNJUNGI TAMAN DOA DI PIK – JAKARTA

MENGUNJUNGI TAMAN DOA DI PIK – JAKARTA

Jalan-jalan ke Taman Doa Our Lady of Akita Sumber foto: Sr. Patricia dan foto milik sendiri

Jumat siang 16 Oktober setelah menjemput Sr. Antonie dan Sr. Patricia di Gambir, kami langsung meluncur ke PIK (Pantai Indah Kapuk). Sudah dari tahun lalu ingin kami mengajak mereka ke taman doa di PIK tapi belum kesampaiaan dan baru kali ini bisa ke PIK. Perjalanan dari Gambir ke PIK cukup macet dan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Saat tiba di PIK sekitar jam 15.30 cuaca sudah tidak begitu panas. PIK terkenal dengan cuacanya yang panas sehingga banyak orang menghindari datang ke PIK pada siang hari karena cuacanya sangat panas apalagi di sana belum banyak pohon yang rindang.

Ada dua taman doa di PIK yaitu Taman Doa Our Lady of Akita dan Taman Doa Hati Tersuci Maria yang terletak di kawasan PIK 2, kedua tempat tersebut berjarak sekitar 7 km, cukup berdekatan.

Taman Doa Our Lady of Akita

Tujuan pertama kami adalah Taman Doa Our Lady of Akita yang Terletak di kawasan Osaka Residence, luasnya sekitar 6.700 m2. Taman doa ini diresmikan pada 4 Mei 2024 oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmojo. Keunikan dari taman doa ini adalah nuansanya bergaya arsitektur tradisional Jepang dan merupakan replika resmi dari kompleks ziarah Gereja Seitai Hoshikai yang berada di Akita, Jepang.

 Begitu memasuki Taman Doa Our Lady of Akita kami melihat patung Santo Yusuf Tidur, Sr Antonie pun bercerita tentang kisahnya. Saat itu Santo Yusuf sedih dan sangat kalut karena ia bermaksud menceraikan Bunda Maria diam-diam, kemudian Malaikat datang ke dalam mimpi Santo Yusuf yang tertidur karena kecapekan

“Yosef, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Matius 1:20-21

Kami kemudian masuk ke dalam kapel yang buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 22.00. Sebelum masuk kapel, pengunjung harus melepaskan alas kaki. Kami berdoa sebentar di dalam kapel yang bernuansa kayu mulai dari dinding, lantai hingga altarnya pun dari kayu. Setelah itu, kami berkeliling melihat-lihat tamannya yang tampak asri dan luas. Sesekali kami berpapasan dengan pengunjung lain yang menyalami Sr. Antonie dan Sr. Patricia sebagai tanda hormat.

Taman Doa Hati Tersuci Maria

Setelah dari Taman Doa Our Lady of Akita, kami lanjut mengunjungi Taman Doa Hati Tersuci Maria yang terletak di kawasan La Riviera PIK 2. Taman doa ini diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, pada 5 Mei 2023, satu tahun sebelum peresmian Taman Doa Our Lady of Akita. Luasnya sekitar 4.000 m², atau sekitar 60% dari luas Taman Doa Our Lady of Akita. Meski lebih kecil, taman ini tertata dengan apik dan dihiasi banyak dekorasi patung.

 Di sana ada Goa Maria yang indah, kami berdoa sejenak kemudian berjalan mengelilingi taman, ada toko suvenir yang dijaga oleh penyandang disabilitas. Di depan toko suvenir terdapat spanduk dengan gambar abjad dalam BISINDO. Suasana terasa tenang dan sunyi. Kami berjalan sampai kami melihat sebuah kapal dan patung Yesus di atas kolam air yang mengisahkan kepanikan para rasul saat kapalnya terombang ambing di danau.

 “Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Markus 6:50

Jalan-jalan ke Taman Doa Hati Tersuci Maria Sumber foto: milik sendiri

Setelah selesai mengunjungi dua taman doa, kami mencari tempat untuk duduk dan ngobrol sambil menikmati suasana sore yang sudah tidak panas lagi. Saat hari mulai gelap, kami sempat mengantar Sr. Antonie dan Sr. Patricia melihat pagoda di Pantjoran yang tampak indah dalam suasana malam. Kemudian kami pun pulang mengantar Sr. Antonie dan Sr. Patricia ke Susteran Meruya. Besoknya, mereka masih memiliki acara yang cukup padat, yaitu mengunjungi teman-teman Tuli yang sudah tua, sakit, dan membutuhkan dukungan. Mereka ditemani oleh Ci Anie, Akiun, Mulyawan dan Boy.

Nongkrong sejenak di sore yang cerah dan sudah tidak panas lagi Sumber foto: milik sendiri

Hari itu menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi kami karena bisa menemani Sr. Antonie dan Sr. Patricia mengunjungi dua taman doa di PIK sekaligus menikmati kebersamaan sebelum mereka melanjutkan kegiatan keesokan harinya.

 

Ditulis oleh Enny Suharto (Onik), alumni DU 1987

Artikulli paraprak
Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

UCAPAN

spot_img

Most Popular

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya