Warung kami menempati lapak bakmi di parkiran depan Gereja Pakem, dimulai 2 bulan lalu. Sebelumnya warung kami ada di Wukir Asri. Di parkiran gereja ini kami mengadu nasib, mengais rejeki. Hal itu menambah semangat kami berkarya di dunia kuliner dalam per-bakmi-an. Di Wukir Asri kami tetap berkarya, terutama terima pesanan snack dan nasbox. Tiap hari kami berjualan Bakmi Jawa di Pendopo lapangan parkir milik gereja Pakem. Adapun menunya antara lain : bakmi godog / goreng, bihun godog / goreng, Nasi godog / goreng, Magelangan. Cap cay. Kami buka sore pukul 17.00 dan tutup pukul 22.00 WIB.
Pada tanggal 16 Agustus 2026 yang lalu umat Katolik mengikuti misa peringatan pesta nama “Santa Maria Assumpta ” di gereja Pakem. Kami diberi tugas oleh ketua lingkungan untuk memasak nasi bungkus sebanyak 30 bungkus. Di Gereja pakem ada 25 lingkungan . Masing – masing lingkungan diwajibkan membawa 30 nasi bungkus .
Berhubung besok tanggal 17 Agustus hari proklamasi kemerdekaan, kami ingin berbagi berkat pada umat gereja berupa voucher makan bakmi gratis 1 porsi. Kami memasak nasi, sayur dan lauk dengan menu yang sudah ditentukan gereja yaitu nasi, oseng tempe , bakmi goreng dan telur semur 1/2 butir .Saya membungkus nasi 30 bungkus, diantaranya saya taruh voucher dalam bungkusan nasi. Ada 17 voucher sesuai tanggal Kemerdekaan Indonesia. Ada 2 macam voucher tercetak dengan tanggal ganjil dan tanggal genap. Masa berlakunya sampai tgl 31 Agustus 2026.
Minggu 16 Agustus pukul 06.30 pagi kami mengantar nasi bungkus kemudian dikumpulkan ke panitia gereja Pakem. Panitia menggelar lapak dan menata nasi bungkus dari 25 lingkungan. Setelah acara misa usai, umat keluar dari gereja. Oleh panitia umat dipersilahkan mengambil minuman hangat dan nasi bungkus yang tersedia di lapak tersebut.
Jam 5 sore Lapak Bakmi Jawa buka. Kami menunggu dengan penuh harap, ingin tahu siapa si mujur yang memperoleh voucher untuk menukar voucher dengan dagangan kami, agar dagangan kami laris semanis madu hehehe… Kami menunggu dengan sabar akhirnya nongol juga si calon pembeli / costumer atau pelanggan. Mereka ada yang bersama teman, ada yang bersama keluarga. Begitu datang, mereka langsung memesan menu lalu menikmatinya.
Pada saat ada yang mau menukarkan voucher, kami ajak mereka ngobrol untuk berkenalan sambil berpromosi. Mereka antusias dan berkomentar yang menyemangati kami. Dengan trik ini membuat saya sebagai tunarungu semakin dikenal, bahwa di Kedai Bakmi Jawa di situ ada penjual tunarungu. Saya bersyukur semakin banyak umat sekitar Gereja terbuka dalam komunikasi , sehingga menjadikan lebih mudah dan nyaman.
Komunikasi mudah bukan berarti lancar 100%. Pelanggan yang sudah kenal saya datang biasanya berkomunikasi dengan gerakan ucapan pelan dan menunjukkan telunjuk jari atau 2 jari atau beberapa jari sebagai tanda/symbol pesan berapa jumlah porsi. Bagi tamu asing maupun WNA yang belum kenal saya , saya menyambut dan layani dengan senyum ramah, serta menyodorkan kertas dan bolpen sembari berkata , ” Maaf bapak / ibu / mbak / mas saya tuli tidak bisa dengar “. Mereka paham. Bila mereka belum paham yang saya katakan, suamiku siaga gercep memberitahu “Mohon maaf istriku tunarungu!” saya bersyukur punya suami mau menrima dan bekerja sama. Satu profesi satu kerja dan kompak berbagi tugas.
Oh ya, ada cerita yang bikin diriku mewek penasaran karena ada dua anak cowok dan cewek, mereka datang ke warung bakmiku. Kutanya “Mau pesan apa?” Cewek menatapku agak lama karena suaraku aneh terdengar. Dia sadar lalu menyesuaikan komunikasi dengan diriku sambil berisyarat menggunakan gesture / bahasa tubuh. Dia berisyarat memperagakan dengan dua tangan dan berkata pelan “Mau bakmi godog satu dan bihun goreng satu”. Ah kok pintar berisyarat aku membatin, terus kutanyakan “Belajar darimana ?”. Dijawabnya : “Saya lihat ibu bicara agak tidak jelas.”. “Saya belajar isyarat dari aplikasi HP “.tambahnya. “Oooh.. ya yaaa…” saya tersenyum sembari memberi jempol padanya. Senyumku melebar karena senang dan gemes melihat tingkah gerak cowok yang sedang berisyarat abjad jari dengan 2 tangan, belajar pada temannya yang cewek itu tadi. Mereka kelas 6 SD.
Kenalan cilik yang kemarin kini jadi pelanggan cilikku yang baru. Mereka datang pesan mie. Begitu selesai mereka menyantap mie, ku hampiri dan menyapa “Darimana ?” “ habis dari Gereja, Latihan koor untuk lomba, Bu” Setiap kali mereka latihan koor, sering mampir makan bakmi.
Pada suatu hari ada 5 anak sehabis latihan koor mampir ke warung bakmi beli nasi goreng. Ku menyapa “Hai…! Tadi upacara ya?” “Iya Buuuu” mereka serempak. “Semangat! Ok lah …. Ibu punya kuis berhadiah jeruk. Mau?” “Maauuuu!” mereka antusias…
Cuplikan kuis :
- Siapa presiden RI pertama ?
- Apa nama lagu kebangsaan Indonesia ?
- Siapa pencipta lagu Indonesia raya ?
- Apa nama bendera Indonesia?.
- Nama ibukota negara Indonesia ?
Mereka menjawab kegirangan karena senang diberi jeruk. Tak lupa saya juga memberi jeruk kepada bapak – bapak yang menemani mereka makan malam. Bahagiaaa melihat keceriaan dan kepolosan anak-anak menyiratkan kehangatan komunikasi yang setara.
Betapa indahnya komunikasi setara. Saling berbagi kasih. Memberi sesuatu tidak harus berupa barang mahal dan mewah. Memberi perhatian dan senyuman itu juga sangat berarti bagi orang lain. Memberi sesuai dengan kemampuan kita. Membantu orang lain tidak perlu perhitungan. Menolong orang lain tanpa pamrih artinya memberi tanpa mengharapkan imbalan. Betuuuul… sungguh indah menolong sesame, ada rasa bahagia tersendiri di hati .
Marilah kita semua menabur kebaikan kepada sesama terutama mereka yang kecil, miskin dan yang membutuhkan . Membantu dengan ikhlas bukan untuk mencari muka , bukan untuk pamer atau mencari popularitas. Bukankah berbuat baik, berbagi kasih serta berbelas kasih itulah yang dikehendaki Tuhan Allah YMK.
Penulis :
MA Estri Setyoningsih (Naning ADECO Jogja dan DU 1985)






