Para Undangan Pesta Malaikat Pelindung |
Kehangatan dan sukacita memenuhi ruangan saat SLB-B Dena Upakara menggelar perayaan Pesta Malaikat Pelindung. Mengusung tema “Menjadi Perpanjangan Tangan Kasih Allah Bersama Malaikat Pelindung”, perayaan ini menjadi perwujudan nyata dari semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian antar sesama.
Suasana perayaan berlangsung sangat meriah dan khidmat. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari para bruder, guru, dan murid-murid SLB Karya Bakti, para Suster PMY, komunitas novisiat, Komite sekolah SLB-B Dena Upakara, para guru, ibu asrama, karyawan, serta seluruh murid SLB-B Dena Upakara.
Misa Kudus dan Pesan Cinta Lewat Sandiwara
Rangkaian acara diawali dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Romo Widyo Lestari, MSC. Perayaan Ekaristi berlangsung khusyuk dan penuh ucapan syukur.

Hal yang menarik terjadi saat sesi homili. Beberapa murid SLB-B Dena Upakara tampil membawakan sebuah sandiwara singkat tentang sosok Santo Vincentius. Melalui akting yang polos namun menyentuh, para murid menggambarkan kebaikan hati Santo Vincentius yang senantiasa memberi perhatian tulus kepada kaum miskin dan terlantar. Penampilan ini menjadi contoh nyata bagaimana pesan kasih dapat disampaikan dengan indah tanpa terhalang keterbatasan.
Penanmpilan Sandiwara Oleh para siswi SLB-B Dena Upakara
Kisah Genta dan Rara: Keunikan yang Menguatkan
Menyambung refleksi dari sandiwara tersebut, Romo Widyo Lestari, MSC menyampaikan pesan homilinya melalui sebuah cerita analogi yang penuh makna tentang persahabatan dua ekor hewan: Genta dan Rara.
Rara adalah seekor harimau yang tidak bisa mengeluarkan suara keras. Ia hanya dapat mendesis karena kondisi tulinya. Sementara itu, Genta adalah seekor gajah yang hanya bisa mendesiskan udara lewat belalainya. Setiap sore, ketika hewan-hewan lain di hutan bernyanyi dan melompat gembira, Genta dan Rara menyadari bahwa mereka memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh hewan lain. Keduanya bersahabat erat dan saling berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh. Meskipun berbeda dari yang lain, mereka tidak pernah merasa kesepian karena selalu menemukan cara untuk saling memahami.
Suatu hari, di bawah pohon beringin yang rindang, Genta duduk merenung sendirian. Ia baru saja melihat teman-temannya mengikuti lomba lari dan bernyanyi bersama. Genta hanya bisa diam terpaku; ia sedih karena jika bersuara, teman-temannya tidak ada yang paham, dan ia pun tidak tahu apa yang sedang diperbincangkan.
Tiba-tiba, dari balik semak-semak, Rara muncul. Melihat saudaranya sedang bersedih, Rara menghampiri Genta secara perlahan untuk menemani dan menghiburnya. Rara menyentuhkan ujung hidungnya ke kaki Genta dan menatapnya lekat-lekat, lalu meletakkan cakarnya seakan berkata, “Aku dan kamu adalah teman.”
Genta yang tersentuh kemudian menyentuhkan belalainya ke kepala Rara, seakan menjawab dengan hangat, “Aku juga mau berteman denganmu.”
Pesan moral dari cerita ini menyentuh hati seluruh umat yang hadir: keunikan dan perbedaan bukanlah penghalang untuk saling mengasihi, melainkan ajakan untuk menjadi “Malaikat Pelindung” satu sama lain dalam kesetiaan dan empati.
Romo Widyo Lestari, MSC Sedang Bercerita Mengenai Persahabatan Genta dan Rara
Kegembiraan, Ungkapan Syukur, dan Kehangatan Bersama
Seusai Misa Kudus, perayaan dilanjutkan dengan sesi makan snack bersama, ragam perlombaan yang seru, serta pembagian hadiah bagi para pemenang. Wajah-wajah ceria murid-murid terpancar saat berlaga dan bersorak memberi dukungan satu sama lain.
Pembagian Hadiah Pemenang Lomba
Momen haru dan khidmat kembali hadir pada sesi penyerahan ucapan terima kasih kepada Bu Ani dan Bu Nur. Pihak yayasan dan sekolah memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi dan pengabdian tulus kedua sosok tersebut yang telah melayani lembaga selama 25 tahun. Tepuk tangan riuh dan rasa hormat menyelimuti penyerahan penghargaan ini.
Penyerahan Tanda Kasih Dari Yayasan Kepada Bu Ani dan Bu Nur
Penyerahan Tanda Kasih Dari Sekolah Kepada Bu Ani dan Bu Nur
Seluruh rangkaian acara Pesta Malaikat Pelindung di SLB-B Dena Upakara ditutup dengan acara makan siang bersama. Kebersamaan yang terjalin hari itu menegaskan kembali komitmen bersama untuk terus menjadi perpanjangan tangan kasih Allah bagi sesama di mana pun berada.
Penulis dan Narasumber : Angelina Eka Ratnawati, S.E. (Guru Binawicara SLB-B Dena Upakara Wonosobo).








