Kita sebagai ADECO yang pernah bersekolah di Wonosobo hampir bisa dipastikan pernah mencicipi mie ongklok—kuliner sederhana namun begitu melekat di ingatan. Di tengah udara sejuk pegunungan, semangkuk mie ongklok hangat bukan hanya pengganjal perut, tetapi juga bagian dari pengalaman hidup yang sulit dilupakan. Ditambah sate sapi dan tempe kemul, makan mie ongklok terasa lengkap dan nikmat. Hingga hari ini, mie ongklok tetap hidup dan populer melalui berbagai tempat makan dan warung terkenal seperti Mie Ongklok Pak Muhadi, Pak Yadi, Pak Tris, Longkrang, Tosari, dan banyak lainnya yang tersebar di berbagai sudut kota Wonosobo hingga Dieng. Setiap tempat mungkin memiliki perbedaan rasa, namun semuanya berakar pada sejarah panjang yang sama. Dan mungkin di antara kalian tidak banyak yang tahu bagaimana sejarahnya….
Awal Mula: Dari Seorang Tabib Bernama Kwa Tjin Hwat
Sejarah mie ongklok yang lebih tua membawa kita ke sosok Kwa Tjin Hwat, seorang warga keturunan Tionghoa kelahiran tahun 1893 yang tinggal di kampung Tosari kelurahan Jaraksari. Ia diperkirakan telah meracik dan menjual mie ongklok sejak awal abad ke-20, bahkan sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Kwa Tjin Hwat dikenal bukan hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai tabib yang membantu masyarakat tanpa memungut bayaran. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ia berjualan mie dengan cara dipikul, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dari sinilah cikal bakal mie ongklok lahir—sebuah hidangan sederhana yang terinspirasi dari tradisi bakmi Tionghoa, namun mulai beradaptasi dengan bahan lokal. Pada masa itu resep mie ongklok masih berbeda dari yang dikenal sekarang. Beberapa sumber menyebutkan adanya penggunaan kaldu kuat dan bahan khas kuliner Tionghoa. Namun seiring waktu, hidangan ini mulai menyesuaikan diri dengan selera masyarakat setempat.
Kwa Sing Wat yang pertama kali meracik Mie Ongklok
Sumber Gambar: Surau Rakyat
Notes: Dalam beberapa sumber, tokoh perintis mie ongklok disebut dengan nama Kwa Tjin Hwat. Namun dalam penuturan keluarga, ia juga dikenal sebagai Kwa Sing Wat, yang diduga merupakan variasi penyebutan nama dari tokoh yang sama (Sumber)
Generasi Penerus: Kwa Ping An dan Penyebaran Awal
Setelah sekitar tahun 1947, usaha tersebut dilanjutkan oleh putranya, Kwa Ping An atau yang dikenal sebagai Bah Slamet. Ia meneruskan tradisi berjualan keliling sekaligus memperluas jangkauan pelanggan, sehingga mie ongklok semakin dikenal luas di masyarakat Wonosobo. Pada masa ini juga terjadi penyesuaian bahan secara bertahap, terutama agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Muslim, dengan menggantikan unsur non-halal menjadi bahan seperti ebi, sayuran lokal, dan kuah berbasis tepung kanji yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Setelah tahun 1991, usaha tersebut dilanjutkan oleh anak-anak Bah Slamet yang masih mempertahankan pola berjualan keliling hingga awal 2000-an. Memasuki sekitar tahun 2004, mereka mulai menetap di warung pinggir jalan di kawasan Honggoderpo. Hingga kini, usaha keluarga tersebut diteruskan oleh Kwa Cu Mei (Supriyati) bersama suaminya Yadi, yang kemudian dikenal dengan nama Mie Ongklok Pak Yadi.
Tenda Mie Ongklok Pak Yadi . Sumber Gambar: Kompasiana
Era Modern
Nama Muhadi sering disebut sebagai tokoh penting dalam sejarah mie ongklok. Namun, penting dipahami bahwa ia bukan pencipta pertama, melainkan pengembang yang membawa mie ongklok ke bentuk modernnya. Sebelum mandiri, Muhadi bekerja sebagai asisten dapur keluarga Kwa Tjin Hwat, dan turut membantu usaha yang kemudian dilanjutkan oleh Kwa Ping An. Dari sinilah ia mempelajari teknik memasak, racikan bumbu, serta cara penyajian mie ongklok secara langsung. Berbekal pengalaman tersebut, Muhadi kemudian membuka usaha sendiri dan mulai menjual mie ongklok di warung tetap. Ia menyempurnakan resep sehingga lebih sesuai dengan selera masyarakat luas—lebih ringan, halal, dan konsisten dalam rasa.
Dari sinilah mie ongklok mulai dikenal sebagai kuliner khas Wonosobo yang memiliki identitas kuat. Model warung menetap juga membuatnya lebih mudah diakses dan berkembang pesat.
Papan rumah makan Mie Ongklok Pak Muhadi Sumber foto: rekomendasi
NB : Bersambung berikut ke 2
Enny Suharto (Onik) – Jurnalis




