BerandaBerita AlumniStudi LanjutDARI SLB/B DENA UPAKARA HINGGA MENJADI GURU SLB NEGERI

DARI SLB/B DENA UPAKARA HINGGA MENJADI GURU SLB NEGERI

     Mbak Intihayah atau yang biasa dipanggil Inti, lahir di Pati pada 18 Januari 1971. Pada tahun 1978, ketika berusia sekitar tujuh tahun, Mbak Intihayah masuk ke SLB/B Dena Upakara Wonosobo. Mbak Intihayah tidak menyelesaikan pendidikan SDLB di sana. Pada tahun 1984, setelah naik ke kelas 7, ia mendapat kesempatan untuk berintegrasi ke sekolah umum.

 

Dari Dena Upakara ke Sekolah Umum

     Rencana untuk bersekolah di sekolah umum pada awalnya diusulkan oleh Sr. Antoni. Sebelumnya, Sr. Antoni menulis surat kepada orang tua Mbak Intihayah untuk menyampaikan rencana tersebut. Orang tua Mbak Intihayah menyetujui usulan itu dan bersedia mencoba menyekolahkan Mbak Intihayah di sekolah umum. Dalam surat balasannya, orang tua juga menyampaikan bahwa apabila nantinya Mbak Intihayah mengalami kesulitan dan tidak berhasil berintegrasi di sekolah umum, ia boleh kembali bersekolah di SLB/B Dena Upakara Wonosobo.

     Pada tahun 1984, Mbak Intihayah mulai bersekolah di SDN Babarsari, Sleman, Yogyakarta dan langsung duduk di kelas 5. Ia akhirnya berhasil lulus SD pada tahun 1986.Memasuki sekolah umum tentu bukan hal yang mudah bagi Mbak Intihayah. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, teman-teman yang semuanya mendengar, serta cara belajar yang berbeda dengan yang selama ini dijalaninya di sekolah Tuli.

Menghadapi Tantangan di Sekolah Umum

     Pada awal masuk SD, Mbak Intihayah pernah mengalami bullying secara fisik dari teman sekelasnya hingga membuatnya menangis. Ia kemudian mengadu kepada seorang teman sekelasnya yang kebetulan masih sepupunya dan tinggal serumah. Ketika sepupunya bertanya mengapa ia menangis, Mbak Intihayah menceritakan bahwa ada teman yang mengejeknya dengan menjulurkan kelingking sambil menjulurkan lidah. Sepupunya kemudian melerai dan memperingatkan teman tersebut. Ia juga mengancam akan melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah jika masih mengulangi perbuatannya.

     Pada suatu hari saat jam istirahat, ketika Mbak Intihayah membeli makanan di kantin, ada teman yang kembali mengejeknya. Kali ini Mbak Intihayah berani langsung melapor kepada kepala sekolah. Dan kepala sekolah kemudian memanggil siswa yang mengejeknya dan menasihatinya agar tidak mengulangi perbuatannya. Setelah itu, teman tersebut tidak berani mengejek Mbak Intihayah lagi. Kepala sekolah SD tersebut adalah ibu dari Mbak Wiwid, kakak kelasnya di Dena Upakara.

     Selain masalah pergaulan, Mbak Intihayah juga mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, salah satunya Bahasa Jawa. Ketika guru Bahasa Jawa, Pak Bardi, bercanda atau melawak menggunakan Bahasa Jawa dan semua teman tertawa, Mbak Intihayah hanya bisa diam karena tidak memahami apa yang dibicarakan. Ia merasa risih karena tidak mengerti mengapa teman-temannya tertawa. Kesulitan juga dirasakan ketika ulangan Bahasa Jawa. Mbak Intihayah sering mendapat nilai kurang baik karena soal diberikan dengan cara didikte atau harus dijawab secara lisan. Namun, berbagai kesulitan tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Mbak Intihayah mulai menemukan berbagai cara agar dapat mengikuti pelajaran bersama teman-temannya.

Belajar, Berprestasi, dan Mendapat Teman

     Ketika masuk SMPN 2 Depok, Sleman, Mbak Intihayah sudah mempunyai pengalaman menghadapi lingkungan sekolah umum. Ia juga mulai menemukan teman-teman yang dapat membantunya mengikuti pelajaran. Salah seorang guru yang paling diingat sampai sekarang adalah Bu Bekti, guru Biologi. Setelah mengetahui keadaan Mbak Intihayah, Bu Bekti memberikan perhatian khusus agar ia dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Mbak Intihayah dan seorang teman baiknya selalu duduk di bangku paling depan. Posisi tempat duduk mereka tidak digilir seperti siswa lainnya sehingga Mbak Intihayah lebih mudah memperhatikan guru.

     Saat ulangan Biologi, Bu Bekti menyiapkan soal tertulis yang berbeda untuk Mbak Intihayah. Dengan demikian, Mbak Intihayah dapat membaca soal dan menuliskan jawabannya sendiri tanpa harus mendengarkan pertanyaan yang didiktekan secara langsung oleh guru. Jika ada guru yang tidak menulis materi di papan tulis dan hanya menjelaskan secara lisan, Mbak Intihayah mempunyai cara lain. Ia melihat teman yang sedang mencatat dan ikut menyalin catatan tersebut. Jika belum selesai, ia meminjam buku catatan temannya untuk melanjutkan menyalin.

     Pengalaman yang cukup membahagiakan terjadi ketika Mbak Intihayah duduk di kelas satu SMP. Saat itu ada pengumuman mengenai kejuaraan umum siswa. Mbak Intihayah terkejut karena mendapat juara harapan 1 atau rangking keempat dari 132 siswa. Jika dihitung berdasarkan kelas, ia mendapat rangking satu dari 33 siswa. Prestasi tersebut membuat teman-temannya semakin mengenal, menerima Mbak Intihayah dan tidak berani membullying. Setelah itu, ia dapat bergaul lebih bebas dengan teman-temannya dalam berbagai kegiatan, seperti kegiatan ekstrakurikuler, pramuka dan kelompok belajar.

     Ada pula pengalaman lucu yang masih diingat Mbak Intihayah sampai sekarang. Ketika masih SD, guru PMP, Bu Ranti, menceritakan bahwa ada jawaban seorang siswa yang menggelikan. Semua teman penasaran ingin mengetahui jawaban tersebut. Bu Ranti kemudian bertanya siapa yang menjawab “tukang batu” untuk pertanyaan tentang siapa Bapak Pembangunan PELITA IV. Mbak Intihayah langsung mengangkat tangan dengan malu karena ternyata jawaban tersebut adalah jawabannya. Ketika ditanya mengapa menjawab “tukang batu”, Mbak Intihayah menjelaskan bahwa ia berpikir pertanyaannya adalah siapa yang membuat empat pelita, semacam alat penerangan. Ternyata jawaban yang benar adalah Presiden Soeharto. Semua teman spontan tertawa. Maklum karena saat itu ia baru pertama kali belajar materi PMP di SD umum dan masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai materi tersebut.

     Setelah lulus SD, Mbak Intihayah melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Depok, Sleman. Ia lulus SMP pada tahun 1989 dan kemudian melanjutkan ke SMAN 2 Sleman hingga lulus pada tahun 1992. Sejak SMP hingga kuliah, Mbak Intihayah merasa lebih mudah bergaul karena sudah mempunyai teman yang dikenalnya dari sekolah sebelumnya. Saat masuk SMP, ada teman saat sekolah di SD. Dan masuk SMA, ada teman saat sekolah di SMP. Menurutnya, memiliki teman yang sudah memahami keadaan Tuli sangat membantu dalam mengikuti kehidupan sekolah umum.

*Catatan: Pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) jaman itu kini telah berganti nama dan berkembang menjadi Pendidikan Pancasila di kurikulum terbaru (kurikulum Merdeka)

 Dari Bangku Sekolah hingga Menjadi Guru

     Setelah lulus SMA pada tahun 1992, Mbak Intihayah melanjutkan pendidikan ke IKIP Negeri Yogyakarta, yang sekarang menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Fakultas Ilmu Pendidikan, jurusan Pendidikan Luar Biasa. Mbak Intihayah menempuh pendidikan S1 selama enam tahun dan lulus pada tahun 1998. Setelah lulus kuliah, perjalanan untuk mendapatkan pekerjaan juga tidak langsung mudah. Pada awalnya, Mbak Intihayah bekerja sebagai relawan di Lapas Wirogunan, Yogyakarta selama dua tahun. Dua kali dalam seminggu ia memberikan penyuluhan keterampilan kepada para narapidana wanita. Setelah itu, ia bekerja sebagai relawan di sebuah yayasan anak tunarungu di Yogyakarta selama satu tahun.

     Mbak Intihayah kemudian pindah bekerja di sebuah SLB swasta di Kota Pekalongan dan bekerja di sana selama delapan tahun. Tiga tahun terakhir di sekolah tersebut, ia mengikuti tes calon Guru Bantu dan kemudian diangkat menjadi Guru Bantu di Semarang. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut. Mbak Intihayah mengikuti tes CPNS eks honorer di Semarang dan akhirnya diangkat menjadi guru PNS.

     Dalam proses mendapatkan pekerjaan tersebut, ada pengalaman yang tidak terlupakan. Saat sedang cuti melahirkan di Pati, Mbak Intihayah harus mengurus kartu kuning sebagai salah satu persyaratan calon Guru Bantu. Namun, saat itu persyaratannya masih belum lengkap.Suaminya kemudian membantu mengurus kartu kuning tersebut di Pekalongan. Ia rela bolak-balik dari Pati ke Pekalongan menggunakan sepeda motor untuk membantu melengkapi persyaratan tersebut. Kini Mbak Intihayah tinggal di Semarang dan sudah 19 tahun bekerja sebagai guru di SLB Negeri Semarang, saat ini ia mengajar murid tuli kelas 7 SMP sebanyak 9 murid. Mbak Intihayah sudah menikah dengan orang dengar dan dikaruniai dua putra yang kini sudah kuliah.

 *Catatan: Kartu kuning kerja adalah kartu tanda pencari kerja atau yang sering disebut Kartu AK1, yang dikeluarkan oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) sebagai bukti resmi bahwa seseorang sedang mencari pekerjaan.

Pesan untuk Teman-teman Tuli

     Menurut Mbak Intihayah, pengalaman bersekolah di sekolah umum memberikan bekalyang sangat berguna untuk kehidupan dan pekerjaannya sekarang. Untuk dapat merasa nyaman dan dihargai oleh teman-teman di sekolah umum, menurutnya seorang Tuli perlu mempunyai mental yang kuat, terutama dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Kelompok belajar juga sangat membantu. Selain itu, penting untuk pandai memilih teman yang mau memahami keterbatasan dan menerima kita sebagai teman.

     Mbak Intihayah mempunyai pengalaman bahwa keterampilan juga dapat menjadi carauntuk membangun pertemanan. Ia mempunyai keterampilan merajut dan teman-temannya senang belajar merajut bersamanya. Sambil belajar merajut, teman-temannya juga belajar memahami cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Lama-kelamaan, Mbak Intihayah mempunyai banyak teman. Mereka dapat saling membantu dalam belajar dan kegiatan lainnya.

     Berdasarkan pengalamannya, Mbak Intihayah berpesan kepada teman-teman Tuli yang ingin melanjutkan sekolah di sekolah umum agar mempunyai mental yang kuat dan percaya diri. Kemampuan bersosialisasi juga penting, termasuk mencari teman yang sabar dan mau memahami keadaan kita.

     Mbak Intihayah juga menyarankan agar siswa Tuli duduk di bangku paling depan agar lebih mudah membaca gerak bibir guru atau dosen. Jika tertinggal materi pelajaran, jangan ragu meminjam buku catatan teman untuk disalin dan segera mengembalikannya setelah selesai. Dan yang terpenting, menurut Mbak Intihayah berpesan: “Jadilah dirimu sendiri dengan prestasimu, teman dengar pasti akan kagum akan keterbatasan dan ketangguhanmu.” 

Ditulis oleh:

Enny Suharto (Onik), alumni DU 1987
Berdasarkan wawancara dengan Mbak Intihayah

Artikulli paraprak
Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya