Almarhumah Sri Rahayu dari Desa Kepil, Kabupaten Wonosobo, adalah teman sekelas saya saat bersekolah di SLB/B Dena Upakara Wonosobo. Nama akrabnya adalah Sri Kepil, karena dia berasal dari Kepil. Tulisan ini saya buat untuk mengenang pertemuan terakhir kami pada reuni SLB/B Dena Upakara tahun 2018 sekaligus mengenang kebaikan Sri yang akan selalu saya ingat.

Saat reuni SLB/B Dena Upakara tanggal 30 Juni–1 Juli 2018, kami mengikuti acara wisata ke Kebun Teh Tambi, Dieng. Semua peserta berkumpul di depan pintu masuk wisata. Saya sangat senang karena teman-teman sekelas bisa berkumpul kembali. Ada Onik, Lia, Sri, Lilis, Murni, Akiun, dan saya. Hanya Bee Djing yang tidak ada karena tidak ikut reuni sedangkan Nana dan Ninik masih belum ditemukan. Kami saling bersalaman karena sudah lama tidak bertemu, lalu berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.
Selanjutnya para peserta dibagi menjadi Grup A, B, dan C untuk berjalan kaki menyusuri Kebun Teh Tambi. Saat beristirahat, saya bertemu Sri dan Lilis. Kami mengobrol dan berfoto bertiga sebagai kenang-kenangan.

Setelah berjalan kaki di kebun teh dan bermain lingkaran sambil bergandengan tangan, kami merasa lelah lalu beristirahat. Saya melihat Sri duduk sendirian. Wajahnya tampak sangat pucat dan terlihat kecapekan. Saya ikut duduk di samping Sri sambil mengobrol. Saya mengajak Sri ikut bermain lagi, tetapi Sri hanya menggeleng-geleng seperti sedang menahan sakit. Saat itu saya tidak tahu bahwa Sri mempunyai penyakit paru-paru dan jantung. Ya Tuhan, kenapa Sri tidak pernah bercerita tentang penyakitnya?
Pada acara puncak malam hari, semua peserta kembali berkumpul. Onik mengajak teman-teman sekelas duduk bersama karena ingin membagikan souvenir berupa dompet kecil. Ternyata Sri belum ada. Kami pun mencari Sri dan menemukannya sedang duduk di tempat lain. Saya memanggil Sri agar bergabung bersama kami. Onik membagikan souvenir, lalu kami memilih warna dompet yang kami sukai. Setelah itu kami mengobrol sepuasnya, tetapi Sri lebih banyak diam.
Setelah acara malam selesai, kami belum sempat berfoto lagi karena sebagian peserta sudah pulang. Namun saat acara reuni benar-benar berakhir, teman-teman sekelas berkumpul kembali untuk berfoto sebanyak-banyaknya sebagai kenang-kenangan dan untuk dijadikan foto kalender. Sebelum pulang, saya mencari Sri untuk berpamitan. Setelah bertemu, saya melihat Sri membawa tas punggung yang sangat berat. Saya menawarkan diri untuk membawakan tasnya, tetapi Sri menolak. Saya bertanya Sri akan pulang naik apa. Sri menjawab akan naik angkot ke terminal, lalu naik bus ke Kepil. Kebetulan ada Murni. Saya minta tolong agar Murni mengantar Sri pulang, dan akhirnya Sri ikut menumpang mobil Murni.
Mungkin Sri sudah mempunyai firasat bahwa itu adalah pertemuan terakhirnya dengan teman-teman sekelas, sehingga Sri ingin ikut reuni di SLB/B Dena Upakara untuk bertemu kami sekali lagi. Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan bertemu Sri pada acara reuni di Wonosobo. Beberapa bulan setelah acara reuni, saya mengirim pesan WhatsApp kepada Sri dan bertanya sedang apa. Sri mengirim foto dirinya sedang berada di rumah sakit. Saya heran dan bertanya Sri sakit apa, tetapi Sri hanya menjawab sedang kontrol tanpa menjelaskan penyakitnya.
Beberapa bulan kemudian saya kembali menerima WhatsApp dan foto dari Sri bahwa ia sedang dirawat inap di rumah sakit. Saya sangat kaget dan bertanya lagi penyakitnya apa. Sri menjawab bahwa ia menderita penyakit paru-paru dan jantung. Saya kemudian menghubungi Bee Djing dan Bu Tumir, meminta tolong agar mereka menjenguk Sri. Syukurlah Bee Djing dan Bu Tumir bersedia datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sri.



Bee Djing kemudian bercerita bahwa sebelumnya Sri sempat dirawat di klinik, tetapi tidak kunjung sembuh. Setelah diperiksa lebih lanjut, Sri didiagnosis menderita penyakit paru-paru, jantung, dan liver. Karena kondisinya semakin berat, Sri dirujuk dan dipindahkan ke rumah sakit. Sri menjalani perawatan di rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Setelah teman-teman sekelas mendapat kabar bahwa Sri telah meninggal dunia, kami sepakat mengumpulkan uang duka sebagai tanda kasih dan penghormatan terakhir untuk Sri.
Sebelum Sri meninggal, ia sempat mengirim pesan kepada saya melalui WhatsApp. Pesannya berbunyi: “Harap kamu baik-baik dan rukun dengan teman-teman sekelasmu, karena saya sedih dan kasihan melihatmu.” Ternyata itulah pesan terakhir Sri kepada saya. Maaf, Sri, sampai sekarang saya belum bisa menepati janji memenuhi pesanmu.

Selamat tinggal, Sri.
Good Bye, Sri yang baik.
Kenangan tentangmu akan selalu kami ingat.
NB:
Reuni DU dilaksanakan pada tanggal 30 Juni–1 Juli 2018
Sri Rahayu meninggal dunia pada tanggal 18 September 2018.
Ditulis oleh Eva alumni DU angkatan 1987





