BerandaBerita AlumniSosok Mantan Kepala Sekolah yang Berwibawa dan Tegas

Sosok Mantan Kepala Sekolah yang Berwibawa dan Tegas

Semua sekolah di seluruh dunia pasti memerlukan Kepala Sekolah untuk mengelolanya, agar sekolah dapat berjalan dengan lancar dan dapat mendidik para murid menjadi orang yang berkepribadian baik dan bisa mencetak lulusan yang berprestasi, tidak kecuali Dena Upakara. SLB Dena-Upakara juga membutuhkan Kepala Sekolah yang bisa mendidik para murid menjadi orang yang tangguh dan bisa mengukir prestasi.

Ada sejarah yg menarik dari pengalaman seorang suster yang menjadi Kepala Sekolah Dena Upakara dengan penuh perjuangan. Beliau adalah Sr. Antonie. Saya dan teman sekelasku pernah menyaksikan perjalanan sejarah Sr. Antonie sebagai Kepala Sekolah selama kami bersekolah mulai dari kelas O kecil sampai lulus kelas 8. Saya ingat sosok Sr. Antonie yg berwibawa dan tegas saat menjabat kepala sekolah.

Sr.Antonie dengan mantan murid satu kelas, Reuni DU yg pertama – 1978.
Berdiri dari kiri ke kanan :
Juniati (Yong Hwa), Lanny (Sioe Lang), Suster Antonie, Tientje, A Yun, Dita.
Jongkok : Tri Hartini, Purwaningdyah.

Yuuk…baca sejarah perjuangan Sr. Antonie.

Saat Sr. Antonie belum menjadi suster, Sr. Antonie kenal anak anak dari Muntilan Tuna Rungu yang berasal dari sebuah keluarga. Keluarga itu mempunyai 9 anak, 5 di antaranya Tuna Rungu yg bernama : Rudi, Sundari, Sutanto, Yanto dan Sutanti.

Sundari dan Sutanti bersekolah di Dena Upakara, sedangkan Rudi, Sutanto dan Yanto bersekolah di Don Bosco. Mereka bisa berkomunikasi dengan orang lain. Hal itu bikin Sr. Antonie kagum, Ini yg membuat Sr. Antonie tertarik masuk bekerja di Dena Upakara, karena Sr. Antonie mau membantu dan memajukan semua orang Tuna Rungu di Indonesia.

Sr. Antonie sedang mengajar. Waktu pertemuan orang tua murid klas 7 – Th. 1972
Dita sedang menulis pada papan tulis.

Pada bulan Januari tahun 1968 Sr.Antonie masuk ke Dena Upakara dan mendapat pekerjaan guru Dena Upakara sebagai awam / bukan suster. Kemudian Sr. Antonie merasa dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi Suster Biarawati pada bulan Mei tahun 1969, karena Sr. Antonie mau berfokus mendidik para murid untuk berkembang.

Sebelum Sr.Antonie menjadi kepala sekolah, pekerjaan beliau adalah sebagai guru dan ibu asrama, antara lain:

    1. Guru kelas Persiapan 1 selama 6 bulan, waktu itu muridnya adalah : Sing Oei – Jakarta, Didit – Yogyakarta, Jarwo – Semarang, Arief – Tegal , Acep – Jakarta, Pek Hok – Serang, Burhanhudin – Jakarta, Hauw (RIP) – Jakarta, Heriatmo (RIP) – Semarang, Agus Susanto – Semarang.
    2. Guru SD kelas 1, muridnya adalah BRM Abiromo (GBPH Condrodiningrat) – Yogyakarta, Sioe Lang (Lanny) – USA, Ling Ling (RIP) – Bogor, Agustina-Semarang, Nanako (RIP) – Semarang, Erna- Jakarta, Wien (RIP) – Ponorogo, A Tjhin – Swiss.
    3. Guru kelas 8 dengan murid Liliana Kusnendar – Jakarta, Nastiti – Yogyakarta, Murni – Yogyakarta, Sri Wahyuni – Ponorogo, Wie Lian – Pekalongan, Liza (RIP) – Surabaya.
    4. Guru kelas 6 dan kelas 7 : Dita – Yogyakarta, Yong Hwa (Juniati) – Jakarta, Sioe Lang (Lanny) – USA, A Yun (Yunny) – Swiss, Tri Hartini – Semarang, Cecilia (RIP) – Pakem, Tientje (Martina) – Holland dan Purwaningdyah – Swiss.
    5. Ibu asrama.

Pada tahun 1976 Yayasan Dena Upakara mengangkat Sr. Antonie menjadi Kepala Sekolah berdasarkan kewibawaan dan ketegasan, karena kewibawaan dan ketegasan sangat dibutuhkan dalam tugas Kepala Sekolah. Sr. Antonie menerima jabatan kepala sekolah dengan senang hati dan yakin bisa mengemban tanggung jawab yang besar.

Suster Antonie sebagai Kepala Sekolah, berfoto bersama.
Dari kiri ke kanan :  Winda, Wati, Firoh, Naning, Sr. Antoni, Bu Untari, Nuri, Luluh, Christine, Enyik.

Sebagai Kepala Sekolah suster bertugas antara lain :

    • mengatur jadwal guru
    • menjaga kualitas pendidikan
    • menjaga keselamatan anak anak
    • mengkoordinir pekerjaan para guru
    • berkomunikasi dengan para orang tua murid
    • berkomunikasi dengan Departemen Pendidikan.

Semua beban tanggung jawab yang diemban terasa berat tapi Sr. Antonie dapat memikul beban tanggung jawab dan berbagai tugas dengan senang hati dan tenang, itulah sosok yg berwibawa dan tegas dalam diri Sr. Antonie.

Sr. Antonie berbagi cerita yang mengandung suka duka dalam peristiwa – peristiwa yang menarik.

Rasa suka bikin hati Beliau bahagia karena:

    • mendapat kepercayaan dari para suster, para guru, para orang tua murid.
    • menjaga dan meningkatkan kualitas Pendidikan, sehingga anak-anak dapat berintegrasi ke sekolah umum, yang pada waktu itu belum lazim – karena belum ada kebijakan resmi dari Departemen Pendidikan.
    • perkembangan anak anak meningkat dalam pelajaran
    • para guru bersemangat dan rajin belajar mengajar.

Rasa duka bikin hati Beliau sedih karena:

    • ada kenakalan para murid.
    • ada yang mencuri
    • ada yang melarikan diri waktu malam karena mencari cowok.
    • ada yang tidak bisa mengendalikan diri gara gara jatuh cinta lalu rewel.
    •  ada anak yang minggat bikin bingung, karena harus mencari murid itu.

Maka Sr. Antonie mencari solusi untuk mengatasi kenakalan para murid, dengan mengangkat SATPAM yang berjaga di gerbang sekolah.

Selain itu ada peristiwa yang menarik waktu Sr. Antonie  menjadi kepala sekolah yaitu :

    • saat anak anak Tuli masuk, mereka tidak mengenal satu kata pun dan belum bisa mengucapkan satu kata pun, mereka Bisu.
    • setelah beberapa tahun belajar di sekolah, mereka sudah bisa mengucapkan kalimat dan berbicara dengan lancar.
    •  setelah lulus mereka dapat mencari nafkah.
    •  sayang sekali ada di antara mereka yang gagal mencari nafkah, menganggur di rumah dan tergantung pada keluarganya, mereka tidak bisa mandiri.

Saya ingat Sr. Antonie menulis di papan pengumuman yang berbunyi:

 “ Harus belajar bicara tanpa isyarat dan berbicara dengan jelas “, ternyata ada tujuan baik dari Sr. Antonie agar anak anak didik dapat berbicara dengan jelas dan dapat mengandalkan membaca bibir dengan tepat, sehingga orang mendengar tahu maksudnya.

Sr. Antonie mengajar di kelas 8.
Dari kiri : Liza (RIP), Murni, Wie Lian, Sri. Wahyuni, Liliana Kusnendar dan Nastiti

Pengabdian Sr. Antonie sebagai kepala sekolah selama 12 tahun dari tahun 1976 sampai tahun 1988. Perjuangan Sr. Antonie untuk membantu dan memajukan para murid dengan penuh perhatian, kasih sayang, ketulusan dan kesabaran yang panjang tanpa mengenal lelah. Setelah masa jabatannya habis, Ketua Yayasan mengangkat Kepala Sekolah baru yang lebih muda.

Setelah itu, suster diangkat oleh Ketua Yayasan Dena Upakara untuk menjadi pembina para guru muda / guru baru, dengan memberi bimbingan pada mereka dalam hal teori maupun praktek mengajar, agar mereka terampil mengajar dan mengetahui latar belakang serta sebab akibat ketulian para murid.

Dari sejarah Sr. Antonie yang panjang, tentu saja tugas Kepala Sekolah membutuhkan perjuangan extra untuk menjamin keselamatan para murid dan menjamin masa depan mereka agar bisa melanjutkan kehidupan yang mandiri. Sr. Antonie rela mencurahkan perhatian, kasih sayang, ketulusan dan kesabaran demi perkembangan para murid dalam pendidikan. Sekarang Sr. Antonie sudah berumur 78 tahun semoga diberi umur panjang dan kesehatan untuk melihat perkembangan para murid dan para alumni, serta perkembangan Sekolah Dena Upakara.

Sr. Antonie mau menyampaikan pesan dan harapan kepada para alumni (Adeco):

  1. ADECO boleh menggunakan isyarat dan membuat isyarat abjad jari, tetapi harus tetap bersamaan / berbarengan mengucapkannya dengan suara yang jelas. Itu adalah bilingual atau malah multi lingual yang meliputi :
        1. Bahasa oral,
        2. Bahasa isyarat dan
        3. abjad jari secara serentak.
  1. ADECO harus bekerja untuk mencari nafkah hingga bisa hidup mandiri.

Kami para alumni Dena Upakara mengucapkan banyak terima kasih yang mendalam atas perjuangan Sr. Antonie selama menjabat sebagai Kepala Sekolah dan kami juga minta maaf sebesar-besarnya atas kenakalan kami sehingga merepotkan Sr. Antonie.

Demikianlah sejarah perjuangan Sr. Antonie.

Narasumber:

Wawancara dengan Sr Antonie, mantan kepala sekolah Dena Upakara. 

Penulis: Eva alumni Dena Upakara tahun 1987.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INFO !!

spot_img
spot_img

posting terupdate

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya