SOLO Surakarta
Apa itu Solo?
Solo atau Surakarta adalah sebuah kota di Jawa Tengah, Indonesia.
Kota Solo dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang memegang teguh tradisi leluhur dengan semboyan The Spirit of Java (Jiwa Jawa). Kota ini menyimpan berbagai warisan seni, mulai dari tari klasik, pertunjukan wayang, hingga tradisi keraton yang hidup berdampingan dengan masyarakat.
Perbedaan Penggunaan Nama:
- Surakarta: Digunakan dalam konteks formal, administratif, dan pemerintahan.
- Solo: Dipakai untuk percakapan umum, nama branding pariwisata, seni, dan budaya (seperti sebutan Wong Solo).
Asal-Usul Singkat:
- Desa Sala: Nama awal daerah tersebut berasal dari nama Desa Sala yang dipimpin Ki Gede Sala, tempat didirikannya Keraton Surakarta Hadiningrat tahun 1745 setelah pindah dari Kartasura.
- Perubahan ke Solo: Orang Belanda dulu sulit melafalkan kata “Sala” sehingga lidah mereka terbiasa mengucapkan “Solo”, yang akhirnya melekat dan akrab di masyarakat luas hingga kini.
Bagaimana kehidupan di Solo?
Kehidupan di Solo cenderung tenang, ramah, dan penuh budaya. Warganya dikenal sopan, banyak acara adat, dan biaya hidup relatif lebih murah dibanding kota besar seperti Jakarta.
Apa yang membuat Solo istimewa?
- Budaya Jawa: Solo punya keraton (istana raja) yang masih berdiri, seperti Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.
- Seni & Tradisi: terkenal dengan batik, seperti wayang, gamelan, dan tari-tarian Jawa.
- Kuliner: banyak makanan khas seperti nasi liwet, cambuk rambak, tengkleng, timlo Solo, selat Solo, serabi Solo.
Pesona Seni dan Budaya Solo:
- Tari Bedhaya Ketawang: Tarian sakral keraton yang hanya dipentaskan saat penobatan raja atau peringatan naik tahta.
- Wayang Orang Sriwedari: Pementasan drama tari tradisional wiracarita (cerita kepahlawanan) Mahabharata dan Ramayana di gedung Wayang Orang Sriwedari.
- Gamelan dan Karawitan: Seni musik tradisional laras slendro dan pelog yang menjadi nyawa dari setiap upacara adat dan tarian daerah.
- Batik Solo: Warisan budaya kain tradisional dengan motif khas seperti Sidomukti dan Parang, yang berpusat di kawasan Kampung Batik Kauman dan Laweyan.
- Solo Batik Carnival: Pameran busana batik megah di jalan utama kota.
- Kerbau Bule Kyai Slamet: Tradisi Kirab Malam 1 Suro dikawal oleh keturunan kerbau keramat milik keraton yang disebut Kebo Bule.
- Sekaten: Perayaan yang dirangkai dengan pasar malam.
- Grebeg Maulud: Diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW (bertepatan dengan akhir rangkaian perayaan Sekaten) dengan memperebutkan gunungan hasil bumi.
- Grebeg Sudiro: Perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa, diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek.
Menurut saya, Solo adalah kota yang paling “Jawa”. Di sini budaya masih terasa hidup. Keratonnya masih ada upacara dan wayang masih dipentaskan. Di tengah mall dan banyak kafe baru, tradisi Jawa masih kuat dan berhasil menjaga budayanya.
Nah, itu informasi terkait budaya yang masih dilestarikan di Solo hingga saat ini. Jadi, apakah kalian tertarik mempelajari dan mengenal lebih dalam terkait budaya tersebut? Tunggu apalagi, yuk berwisata ke Solo sambil belajar budaya-budaya tersebut!
Sumber dari:
- Instagram (sandizakaria)
- Eling Solo
(http://elingsolo.com/Portal/beritaSingle/148)
Ditulis oleh:
Anis, lulusan SMPLB DU 2013







