BerandaSerba SerbiHELLEN KELLER MODERN KISAH INSPIRATIF HABEN GIRMA

HELLEN KELLER MODERN KISAH INSPIRATIF HABEN GIRMA

Sumber gambar: lighthouseguild

“We all have the power to create our own stories.”
“Kita semua memiliki kekuatan untuk menulis cerita kita sendiri.”

— Haben Girma —

 

Siapa yang tidak mengenal Helen Keller?

Bagi sebagian dari kita, nama Helen Keller mungkin hanya pernah terdengar sekilas. Namun, Helen Keller adalah salah satu sosok paling terkenal dalam sejarah perjuangan penyandang disabilitas. Ia lahir pada tahun 1880 di Amerika Serikat. Ketika masih berusia 19 bulan, sebuah penyakit membuatnya kehilangan penglihatan dan pendengaran. Keadaan seperti ini pada masa itu hampir tidak terbayangkan, Helen Keller kemudian belajar berkomunikasi, menempuh pendidikan tinggi, menjadi penulis dan pembicara, serta aktif memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Pada tahun 1904, ia menjadi orang deafblind pertama yang memperoleh gelar Bachelor of Arts dari Radcliffe College, Massachusetts, Amerika Serikat

Kisah Helen Keller kemudian dikenal di seluruh dunia. Ia menunjukkan bahwa kehilangan penglihatan dan pendengaran tidak berarti kehilangan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat bagi orang lain.

 

Tetapi, apakah di zaman modern ini ada sosok seperti Helen Keller?

Jawabannya adalah ‘ada’, yaitu : Haben Girma.

Haben Girma adalah seorang perempuan deafblind atau tuli-netra yang berhasil menjadi lulusan pertama deafblind dari Harvard Law School pada tahun 2013. Ia kemudian menjadi pengacara dan aktivis yang memperjuangkan hak serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Karena perjalanan dan perjuangannya mengingatkan banyak orang pada Helen Keller, Haben Girma sering diperkenalkan sebagai sosok “Helen Keller modern.”

Tetapi tentu saja Haben bukanlah Helen Keller yang hidup kembali di zaman sekarang. Ia adalah Haben Girma dengan perjuangannya sendiri. Haben Girma lahir di Oakland, California, Amerika Serikat pada tanggal 29 Juli 1988. Dunia yang dihadapinya sudah berbeda. Teknologi telah berkembang jauh, pendidikan semakin terbuka, dan berbagai aturan tentang hak penyandang disabilitas telah banyak berubah.

Namun satu hal masih sama, yaitu : perjuangan untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menentukan kemampuan seseorang.

 

Tantangan yang Tidak Terlihat

Menjadi deafblind di dunia yang sebagian besar dibangun untuk orang yang dapat melihat dan mendengar bukanlah hal yang mudah. Sejak sekitar usia lima tahun, Haben Girma hidup dengan kondisi deafblind. Ia masih memiliki sisa penglihatan dan pendengaran, tetapi sangat terbatas. Karena itu, banyak hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang bagi kebanyakan orang mudah dilakukan justru menjadi tantangan baginya. Bagaimana mengetahui informasi di sekitar? Bagaimana mengikuti percakapan? Bagaimana membaca materi pelajaran atau berkomunikasi dengan orang lain?

Ketika kuliah di Lewis & Clark College, salah satu persoalan yang dihadapinya bahkan terdengar sangat sederhana: bagaimana mengetahui makanan yang tersedia di kantin? Haben kemudian mencari solusi. Ia meminta agar menu tersedia dalam Braille atau format digital sehingga dapat diakses dengan teknologi yang ia gunakan. Salah satu solusi yang kemudian digunakan adalah meminta menu dikirim melalui email. Namun, pada awalnya menu tersebut tidak selalu dikirim. Haben kemudian menyampaikan keberatannya hingga akhirnya menu dikirim secara rutin.

Haben Girma bersama kedua orang tuanya pada hari wisudanya dari Lewis & Clark College, 2010. Sumber foto: Reddit

Pengalaman tersebut membuat Haben semakin memahami bahwa sering kali hambatan bukan semata-mata karena seseorang memiliki disabilitas. Hambatan dapat muncul karena lingkungan belum menyediakan cara yang dapat diakses oleh semua orang. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjuangan Haben.

“Disability is an opportunity for innovation.”
“Disabilitas adalah kesempatan untuk berinovasi.”
— Haben Girma

 

Harvard: Mimpi yang Tidak Mudah

Ketika Haben diterima di Harvard Law School, tantangannya tentu menjadi jauh lebih besar. Bagaimana seorang mahasiswa deafblind dengan penglihatan dan pendengaran yang sangat terbatas dapat mengikuti kuliah hukum yang penuh dengan bacaan, diskusi, dan perdebatan?

Haben tidak memiliki semua jawabannya sejak awal. Bahkan pihak Harvard pun harus mencari tahu cara terbaik untuk menyediakan akses yang sesuai dengan kebutuhannya. Mereka mencoba berbagai cara dan menyesuaikannya dengan kondisi Haben.

Ketika Harvard mengatakan bahwa mereka belum pernah memiliki mahasiswa deafblind sebelumnya, Haben menjawab dengan tenang, “Saya juga belum pernah kuliah di Harvard Law School sebelumnya.”

Dalam situasi tertentu, Haben menggunakan alat bantu amplifikasi untuk membantunya mendengar. Namun, ketika berada di lingkungan yang bising atau ketika komunikasi berlangsung cepat, ia menggunakan cara lain yang lebih efektif, yaitu keyboard yang terhubung dengan perangkat Braille. Orang lain dapat mengetikkan apa yang ingin disampaikan, dan tulisan tersebut muncul dalam bentuk Braille yang dapat dibaca Haben dengan ujung jarinya.

Dengan cara ini, teknologi menjadi jembatan komunikasi yang memungkinkan Haben mengikuti perkuliahan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Dan akhirnya, pada tahun 2013, ia berhasil lulus dari Harvard Law School sebagai orang deafblind pertama yang lulus dari sekolah hukum tersebut.

 

Haben Girma deafblind pertama yang lulus dari sekolah hukum Harvard, didampingi anjingnya yang setia, Mylo  Sumber foto: People

 

Keberhasilannya bukan hanya tentang mendapatkan gelar dari salah satu sekolah hukum terbaik di dunia. Lebih dari itu, Haben membuktikan bahwa menjadi deafblind tidak berarti seseorang tidak mampu menempuh pendidikan tinggi. Yang dibutuhkan adalah kesempatan dan akses yang sesuai. 

“It’s okay to not have the answer, as long as you try.”
“Tidak apa-apa kalau kita belum punya jawabannya, selama kita mau mencoba.”
— Haben Girma

   

Bukan Sekadar Menaklukkan Harvard

Mungkin kisah Haben dapat berhenti sampai di sini sebagai kisah sukses seorang perempuan deafblind yang berhasil lulus dari Harvard. Tetapi ternyata tidak. Setelah lulus, Haben memilih menggunakan pendidikan hukumnya untuk memperjuangkan hak penyandang disabilitas. Ia bekerja di bidang hukum, pendidikan dan hak-hak sipil serta terus berbicara tentang pentingnya aksesibilitas dan inklusi. Bagi Haben, keberhasilan pribadi bukanlah tujuan akhir. Ia ingin agar jalan yang telah ia buka dapat digunakan oleh orang lain yang datang setelahnya. Dan di sinilah kisah Haben kembali mengingatkan kita kepada Helen Keller.

Helen Keller tidak hanya ingin membuktikan bahwa dirinya mampu belajar. Sepanjang hidupnya, ia juga memperjuangkan kesempatan dan hak bagi penyandang disabilitas. Ia bekerja selama lebih dari 40 tahun bersama American Foundation for the Blind dan menggunakan suaranya untuk mendorong perubahan sosial. Lebih dari satu abad kemudian, Haben Girma melanjutkan semangat yang serupa dalam dunia yang sudah berubah.

Jika Helen Keller menggunakan tulisan, buku, perjalanan dan pidatonya untuk menyuarakan perjuangan penyandang disabilitas pada zamannya, Haben memanfaatkan hukum, teknologi dan dunia digital untuk membuka pintu yang lebih luas bagi generasi berikutnya.

Haben Girma adalah seorang advokat yang memperjuangkan kesetaraan peluang bagi penyandang disabilitas.

 

Keterbatasan atau Lingkungan?

Mungkin inilah bagian paling menarik dari kisah Haben Girma. Kita sering melihat disabilitas sebagai sesuatu yang membuat seseorang memiliki keterbatasan. Namun Haben mengajak kita melihatnya dari sudut yang berbeda.

Bayangkan seseorang tidak dapat melihat. Apakah berarti ia tidak dapat menggunakan komputer? Tidak selalu. Dengan teknologi yang tepat, ia dapat membaca melalui Braille digital.

Seseorang yang tidak dapat mendengar dengan baik apakah berarti ia tidak dapat mengikuti pendidikan? Tidak selalu. Dengan akses komunikasi yang sesuai, ia tetap dapat belajar dan berdiskusi.

Jadi, kadang-kadang yang menjadi penghalang bukanlah kondisi seseorang, tetapi cara dunia dirancang untuknya. Pemikiran inilah yang membuat kisah Haben Girma jauh lebih besar daripada sekadar kisah seorang perempuan yang berhasil lulus dari Harvard.

Ia mengajak kita bertanya: Apakah dunia sudah cukup terbuka bagi semua orang?

Dan kalau belum, apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya lebih inklusif?

“Disability is never the barrier. The barrier is society and expectations.”
“Disabilitas bukanlah penghalang.

Penghalangnya adalah masyarakat dan anggapan yang ada.”— Haben Girma

 Mantan Presiden Barack Obama berfoto bersama Girma dalam acara  memperingati 25 tahun Americans with Disabilities Act pada 20 Juli 2015. Sumber: cfodive

 

Helen Keller Modern?

Lebih dari seratus tahun setelah Helen Keller membuka mata dunia terhadap kemampuan penyandang disabilitas, muncul Haben Girma dengan perjuangannya sendiri. Keduanya hidup di zaman yang sangat berbeda. Helen Keller hidup ketika teknologi masih sangat terbatas. Haben hidup di era komputer, internet, Braille digital dan berbagai teknologi asistif.

Namun keduanya memiliki satu persamaan penting: mereka tidak membiarkan keterbatasan menentukan sejauh mana mereka boleh bermimpi.

Mungkin karena itulah kisah Haben Girma mengingatkan kita pada Helen Keller.

Bukan karena Haben adalah Helen Keller yang baru.

Tetapi karena seperti Helen Keller, Haben menunjukkan kepada dunia bahwa terkadang yang perlu diubah bukanlah orangnya, melainkan dunia di sekelilingnya.

 Pesan dari penulis:

 Kita mungkin tidak bisa memilih keadaan yang kita miliki,

tetapi kita masih bisa memilih seberapa jauh kita melangkah.”

Saya sendiri pernah merasakan betapa sulitnya menjadi mahasiswa Tuli. Saya kuliah pada tahun 1993, dan ketika kembali kuliah pada tahun 2021, saya berharap keadaan sudah jauh lebih baik. Ternyata, saya masih menemukan berbagai kesulitan. Teknologi memang sudah berkembang, tetapi kemudahan dan akses untuk mahasiswa Tuli belum selalu tersedia.

Pengalaman itu membuat saya semakin memahami kisah Haben Girma.

 

Sumber:

Haben Girma — Situs resmi

Haben Girma – Keynote at the 2017 Annual Meeting & MuseumExpo

Harvard Law School

Harvard Law School – A Self-Advocate Is Now Also a Legal Advocate

Harvard Law Bulletin, Summer 2013

Harvard Law Bulletin – Student Snapshot: Haben Girma

American Foundation for the Blind (AFB)

American Foundation for the Blind – Helen Keller Biography and Chronology

 


Ditulis oleh Enny Suharto (Onik), alumni DU angkatan 1987

Dengan bantuan ChatGPT dalam riset, pengembangan ide, dan penyuntingan.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INFO !!

spot_img
spot_img

posting terupdate

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya