Saat Bu Tumir megajar artikulasi pada murid di SLB/B Dena Upakara
Masih ingat Bu Tumir? Siapa yang pernah menjadi murid Bu Tumir untuk belajar bicara atau artikulasi? Saya dan teman-teman seangkatan yang lulus tahun 1987 adalah salah satunya. Berkat kesabaran dan ketekunan Bu Tumir, kami belajar berbicara dari nol hingga dapat berbicara dengan lebih jelas. Bu Tumir telah berjasa besar mengajarkan artikulasi kepada murid-murid tunarungu. Di balik keberhasilan itu, ada perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Berikut kisah awal Bu Tumir menjadi guru artikulasi di SLB/B Dena Upakara Wonosobo.

Pada bulan Oktober 1980, Bu Tumir mulai menjadi guru baru di SLB/B Dena Upakara. Setiap hari, pukul 07.30–11.30, beliau mengamati para guru dan suster mengajar di kelas. Selain itu, setiap hari kecuali Sabtu, pukul 08.30–09.30, beliau mengikuti pelajaran tentang pendidikan anak tunarungu yang dibimbing oleh para suster.
Para suster yang membimbing Bu Tumir dan semua guru baru khususnya antara lain:
- Sr. Henricia mengajar artikulasi dan bertanggung jawab atas bidang artikulasi.
- Sr. Wiborada mengajar LMM (Latihan Mendengar Musik).
- Sr. Antonie mengajar MMR (Maternal Reflective Method), yaitu metode mengajarkan bahasa kepada anak tunarungu.
- Sr. Marwati mengajar Psikologi Anak Tunarungu.
- Sr. Cecilia mengajar audiologi, yaitu pemeriksaan dan pengukuran pendengaran anak.
Pada bulan April 1981, Sr. Henricia memilih Bu Tumir menjadi guru khusus artikulasi untuk akan dibimbing secara khusus oleh beliau. Saat mendengar keputusan itu, Bu Tumir merasa sangat kaget. Dalam hati beliau bertanya, mengapa justru dirinya yang dipilih oleh Sr. Henricia, seorang ahli artikulasi. Namun rasa kaget itu berubah menjadi semangat. Bu Tumir bertekad belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membuktikan bahwa Sr. Henricia tidak salah memilihnya. Semua pelajaran yang diberikan selalu dicatat dengan rapi dan dipelajari kembali. Ketika praktik mengajar artikulasi, Bu Tumir pernah melakukan kesalahan. Saat itu Sr. Henricia berkata, “ne.“ Dalam bahasa Belanda, kata itu berarti “tidak.” Bu Tumir langsung mengerti bahwa cara mengajarnya masih belum benar. Maka keringat sebesar biji jagung pun mengalir di seluruh tubuhnya. Namun pengalaman itu tidak membuatnya menyerah. Justru sejak saat itu Bu Tumir semakin bertekad untuk belajar dan memperbaiki cara mengajar artikulasi.
Pada bulan Juli 1981, saat Bu Tumir mengajar artikulasi. Sr. Henricia sering datang secara tiba-tiba untuk melihat cara Bu Tumir mengajar tanpa memberi tahu lebih dahulu. Lama-kelamaan, setelah melihat perkembangan Bu Tumir, Sr. Henricia tersenyum, menepuk bahunya, lalu berkata, “Bagus.” Mendengar pujian itu, hati Bu Tumir merasa lega dan sangat bahagia. Semua usaha dan kerja kerasnya selama belajar akhirnya membuahkan hasil.
Cara Bu Tumir Mengajar Artikulasi
Saat mengajar, Bu Tumir selalu berusaha agar setiap murid dapat berbicara dengan lebih jelas. Jika ada murid yang cepat memahami pelajaran, beliau akan memberikan latihan yang lebih tinggi agar artikulasinya semakin baik. Sebaliknya, jika ada murid yang sebenarnya pintar tetapi malas berlatih, Bu Tumir akan menegurnya. Bagi murid yang rajin belajar, Bu Tumir sering memberikan hadiah satu permen sebagai bentuk penghargaan dan penyemangat.
Dalam mengajar artikulasi, Bu Tumir menggunakan beberapa alat bantu, yaitu:
- Tangan
- Kertas
- Kaca (cermin)
- Earphone dan mikrofon
Masing-masing alat mempunyai fungsi yang berbeda.
- Tangan
Tangan ditempelkan di leher untuk merasakan getaran saat berbicara. Dengan cara ini, murid belajar bahwa ketika berbicara harus mengeluarkan suara. Orang lain dapat mendengar pembicaraan kita karena ada suara yang keluar dari tenggorokan. Tangan anak juga ditempelkan pada pipi atau bibir guru ketika belajar mengucapkan bunyi nasal M.
- Kertas
Kertas diletakkan di depan bibir untuk membedakan bunyi letupan, misalnya huruf K dan G. Contohnya pada kata “kawat” dan “gawat”. Bentuk gerakan bibir hampir sama sehingga anak tunarungu sulit membedakannya hanya dengan membaca gerak bibir. Karena itu digunakan selembar kertas. Saat mengucapkan bunyi “ga”, kertas akan bergerak karena hembusan udara, sedangkan saat mengucapkan “ka”, kertas hampir tidak bergerak. Cara sederhana ini membantu murid membedakan kedua bunyi tersebut.
- Kaca (Cermin)
Bu Tumir dan murid duduk di depan cermin. Melalui pantulan cermin, murid dapat melihat gerakan bibir Bu Tumir saat berbicara, kemudian menirukan gerakan tersebut. Cara ini membantu murid belajar mengucapkan kata dengan lebih tepat.
- Earphone dan Mikrofon
Earphone dan mikrofon digunakan sebagai alat bantu latihan. Dengan alat ini, murid yang masih memiliki sisa pendengaran dapat berlatih membedakan tinggi rendahnya suara sesuai kemampuan pendengarannya.
Agar pembelajaran lebih efektif, sekolah menyediakan ruang khusus untuk pelajaran artikulasi beserta peralatannya. Selama mengajar, Bu Tumir pernah menggunakan tiga ruang artikulasi yang berbeda. Awalnya ruang artikulasi berada di dalam ruang menari yang bersebelahan dengan ruang kesenian. Kemudian dipindahkan ke sudut dekat ruang ibu asrama, tidak jauh dari pohon alpukat. Setelah itu dipindahkan lagi ke gedung baru agar murid-murid TK tidak perlu berjalan terlalu jauh sehingga waktu belajar menjadi lebih efektif.
Selama bertahun-tahun, Bu Tumir mengajar dengan penuh kesabaran. Beliau percaya bahwa setiap murid tunarungu mempunyai kemampuan untuk belajar berbicara apabila dibimbing dengan cara yang tepat, rajin berlatih, dan tidak mudah menyerah.
Pengabdian Bu Tumir Selama 44 Tahun
Tujuan utama Bu Tumir mengajar bicara atau artikulasi adalah agar murid-murid tunarungu dapat berbicara dengan lebih jelas. Pada waktu itu masih banyak orang yang menganggap anak tunarungu sebagai “anak bisu”. Bu Tumir ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak tunarungu juga dapat berbicara seperti orang pada umumnya apabila mendapat bimbingan artikulasi yang baik dan dilakukan dengan tekun sehingga kita bisa setara dengan orang umumnya.
Bagi Bu Tumir, kemampuan berbicara bukan hanya untuk mengucapkan kata-kata, tetapi juga sebagai bekal agar murid dapat berkomunikasi dengan lebih baik, lebih percaya diri, dan lebih mudah bergaul di tengah masyarakat.

Selama kurang lebih 44 tahun, Bu Tumir mengabdikan dirinya sebagai guru artikulasi di SLB/B Dena Upakara Wonosobo. Beliau mendidik banyak murid dengan penuh kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang. Perjuangan itu tentu tidak mudah, tetapi Bu Tumir tidak pernah mengenal lelah dalam membimbing murid-muridnya. Pada tahun 2019, Bu Tumir memasuki masa pensiun. Namun sekolah masih membutuhkan pengalaman dan keahliannya, sehingga masa tugas beliau diperpanjang hingga tahun 2024.
Setelah itu Bu Tumir memutuskan untuk benar-benar pensiun karena merasa sudah cukup lama mengabdi di Wonosobo. Selama sekitar 44 tahun, beliau telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mendidik murid-murid tunarungu agar bebas dari kebisuan. Setelah pensiun, Bu Tumir kembali ke Yogyakarta. Tidak lama kemudian, seorang suster meminta beliau membantu mengajar artikulasi di SLB HKI (Hellen Keller Indonesia) di Wirobrajan, Yogyakarta. Bu Tumir pun dengan senang hati menerima permintaan tersebut. Hingga sekarang, Bu Tumir masih membantu mengajar artikulasi setiap hari Selasa dan Kamis di sekolah tersebut.
Perjalanan panjang Bu Tumir mengajar artikulasi merupakan bukti bahwa keberhasilan seorang guru tidak diukur dari lamanya mengajar saja, tetapi juga dari ketulusan hati, kesabaran, dan kasih sayang kepada setiap murid. Kami, para alumni, mungkin tidak akan pernah mampu membalas semua jasa Bu Tumir. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, kami ingin mengucapkan: “Terima kasih, Bu Tumir, atas perjuangan, ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran Bu Tumir selama mengajar kami. Ilmu dan kasih sayang Bu Tumir akan selalu kami kenang.“
Pesan Bu Tumir dan Bukti Hasil Pendidikan Artikulasi
Di akhir tulisan, Bu Tumir menyampaikan sebuah pesan kepada para pembaca, khususnya keluarga besar ADECO. Menurut Bu Tumir, dahulu banyak orang tua menyekolahkan anaknya di Dena Upakara Wonosobo karena berharap anak mereka dapat belajar berbicara. Kemampuan berbicara dapat berkembang apabila didukung dengan penguasaan bahasa. Bahasa sangat penting karena membantu mengembangkan daya pikir dan daya perasaan sehingga pengetahuan bisa bertambah dan EQ pun stabil. Di SLB/B Dena Upakara maupun SLB/B Don Bosco, para murid tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga belajar berbicara sebagai bekal untuk berkomunikasi dengan orang lain setelah lulus, agar masyarakat pun bisa mengerti dan paham apa yang kita sampaikani. Karena itu, Bu Tumir berharap para alumni menggunakan kemampuan berbicara yang telah dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Pesan Bu Tumir kepada seluruh alumni ADECO adalah:
“Kalian sudah mempunyai bekal yang baik. Gunakanlah kemampuan itu dengan sebaik-baiknya karena ADECO mempunyai nilai plus tersendiri. Salam sukses untuk seluruh keluarga besar ADECO di mana pun berada.”
Saya sendiri pernah merasakan manfaat dari pelajaran artikulasi yang diajarkan Bu Tumir. Suatu hari, ketika saya bekerja di sebuah konveksi pakaian anak, seorang teman kerja bernama Bu Tri memanggil saya. Beliau meminta saya mengucapkan huruf “R”. Saya merasa bingung, tetapi tetap mengikuti permintaannya. Setelah saya mengucapkan huruf “R”, Bu Tri berkata kepada seorang teman kerja bernama Yanto, “Eva tuli, tetapi bisa mengucapkan huruf R. Kamu bisa mendengar, kok tidak bisa mengucapkan huruf R?” Mendengar ucapan itu, Yanto langsung marah, sedangkan saya hanya bengong karena belum mengerti apa yang sedang terjadi. Bu Tri kemudian menjelaskan bahwa Yanto memang kesulitan mengucapkan huruf “R”. Teman-teman kerja yang lain pun tertawa.
Tidak lama kemudian, teman kerja saya yang bernama Cik Min bertanya, “Kamu kok bisa mengucapkan huruf R, padahal kamu tuli?” Saya menjawab, “Karena dulu saya sekolah dan belajar bicara.” Pengalaman itu membuat saya semakin yakin bahwa pendidikan artikulasi di SLB/B Dena Upakara benar-benar memberikan hasil yang baik. Banyak orang menjadi heran ketika melihat seorang tunarungu dapat berbicara dengan jelas. Semua itu tidak lepas dari perjuangan para guru, khususnya Bu Tumir, yang dengan sabar membimbing kami selama bertahun-tahun.
Atas nama para alumni, kami mengucapkan terima kasih kepada Bu Tumir atas segala ilmu, pengabdian, dan kasih sayang yang telah diberikan kepada kami. Semoga Bu Tumir selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan berkat yang melimpah.
Narasumber: Bu Tumir (mantan guru artikulasi SLB/B Dena Upakara Wonosobo)
Penulis: Eva, Alumni Dena Upakara Wonosobo Tahun 1987.





