Semangat dan Keceriaan dalam Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus (PPBK) Dinas Pendidikan Wilayah IX di SLB Karya Bakti Wonosobo

Wonosobo, 4–6 September 2026 — Suasana penuh semangat, keceriaan, kebersamaan, dan persaudaraan terasa di lingkungan SLB Karya Bakti Wonosobo pada tanggal 4–6 September 2026. Selama tiga hari, SLB Karya Bakti Wonosobo menjadi tempat penyelenggaraan Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus (PPBK) yang diikuti oleh peserta didik dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan PPBK menjadi momentum istimewa bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk belajar, berinteraksi, mengembangkan kemandirian, serta menunjukkan potensi dan kemampuan mereka melalui berbagai aktivitas kepramukaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perkemahan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter, keberanian, kedisiplinan, kreativitas, dan rasa percaya diri.

Meriah sejak Hari Pertama

Kegiatan diawali pada Jumat, 4 September 2026. Sejak siang hari, para peserta mulai berdatangan ke SLB Karya Bakti Wonosobo untuk melakukan registrasi dan pendirian tenda. Peserta bersama pendamping dari sekolah masing-masing bekerja sama menyiapkan tempat tinggal selama mengikuti perkemahan.

PendirianTenda

Registrasi Peserta

Setelah seluruh peserta siap, kegiatan dilanjutkan dengan Upacara Pembukaan di lapangan SLB Karya Bakti. Upacara berlangsung dengan penuh semangat dan menjadi tanda dimulainya rangkaian PPBK. Petugas upacara berasal dari perwakilan beberapa sekolah, yaitu Budi Asih, SLB B Dena Upakara, dan SLB B Karya Bakti, dengan dukungan Kwarcab dan seluruh peserta.

Upacara pembukaan

Pada malam harinya, peserta mengikuti ibadah berjamaah, kemudian menikmati Malam Pentas Seni Sesi 1. Berbagai penampilan peserta dari sejumlah SLB menjadi hiburan sekaligus kesempatan untuk menunjukkan bakat dan kreativitas. Setelah kegiatan selesai, peserta dan pendamping mengikuti briefing malam sebelum beristirahat di tenda masing-masing.

 

Mengasah Keterampilan Kepramukaan

Hari kedua, Sabtu, 5 September 2026, dimulai dengan ibadah pagi dan senam bersama FORKOS. Setelah kegiatan pribadi dan apel pagi, para peserta mempersiapkan diri mengikuti berbagai lomba kepramukaan.

Senam bersama FORKOS

Berbagai kegiatan lomba dirancang untuk melatih keterampilan, ketangkasan, kerja sama, konsentrasi, dan keberanian peserta. Lomba tersebut antara lain:

  • Lomba Semaphore

Lomba Semaphore

  • Lomba Meniti

Lomba Meniti Bambu

  • Lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB)

Lomba PBB

  • Lomba KIM Lihat

Lomba KIM Lihat

  • Lomba Yel-yel

Lomba Yel-Yel

Peserta berpindah dari satu pos ke pos lainnya dengan didampingi oleh pendamping, Dewan Kerja, serta FORKOS. Sistem kegiatan yang berbentuk pos memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang bagi peserta.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya belajar tentang keterampilan kepramukaan, tetapi juga belajar bekerja dalam kelompok, mengikuti aturan, berkomunikasi, menyelesaikan tantangan, serta saling memberikan dukungan kepada teman.

 

Belajar Tanggap terhadap Bencana dan Berkarya melalui Pionering

Setelah kegiatan lomba pagi, peserta melanjutkan kegiatan dengan istirahat, ibadah, dan makan siang. Pada siang hari, peserta mendapatkan sosialisasi dari Oemah Alam Mandala tentang kebakaran dan perlengkapannya. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman edukatif bagi peserta untuk mengenal pentingnya kesiapsiagaan dan keselamatan ketika menghadapi keadaan darurat terutama dalam cara memadamkan api jika terjadi kebakaran saat memasak atau saat terjadi kebocoran gas.

Sosialisasi dari Oemah Alam Mandala tentang kebakaran

Selanjutnya, peserta mengikuti Lomba Pionering Gapura menggunakan 15 tongkat. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menekankan kreativitas, ketelitian, kerja sama, dan keterampilan peserta dalam memanfaatkan perlengkapan kepramukaan.

Lomba Pionering

Api Unggun dan Pentas Seni: Malam Penuh Kebersamaan

Malam kedua menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Setelah ibadah dan makan malam, peserta mempersiapkan api unggun. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Api Unggun dan Pentas Seni Sesi 2.

Sebelum api unggun dinyalakan, kami melaksanakan upacara penyalaan api unggun dimana Peserta Perkemahan dari SLB Dena Upakara dan SLB Karya Bakti mendapat tugas untuk mengucapkan Dasa Dharma secara bergantian. Setelah itu acara semakin memukau dengan munculnya seekor lutung putih yang bertugas untuk menyalakan api unggun.

Lutung putih menyalakan api unggun

Api Unggun Menyala

Semakin malam suasana semakin meriah dengan penampilan peserta dari berbagai sekolah. Sebanyak tujuh sekolah dijadwalkan tampil pada sesi kedua, yaitu SLB Negeri Purworejo, SPKH Negeri Karanganyar, SLB-B Karya Bakti Wonosobo, SLB ABC Putra Manunggal, SLB-B Dena Upakara Wonosobo, SLBN Taman Winangun Kabupaten Kebumen, dan SLB Negeri Banjarnegara.

Api unggun bukan sekadar kegiatan seremonial. Di tengah suasana malam, peserta, pendamping, panitia, FORKOS, dan Dewan Kerja dapat berkumpul dalam suasana penuh keakraban. Momen tersebut menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan dalam kegiatan Pramuka. Pada kesempatan ini SLB-B Dena Upakara Wonosobo mempersiapkan dance yang dibuat oleh siswa sendiri.

Dance Oleh SLB-B Dena Upakara Wonosobo

Wisata dan Refleksi di Telaga Menjer

Hari ketiga, Minggu, 6 September 2026, diawali dengan ibadah pagi. Setelah itu, peserta dan pendamping berkumpul di tengah lapangan guna untuk persiapan keberangkatan menuju Telaga Menjer, Wonosobo. Pihak panitia sudah mempersiapkan 9 truk yang di dalamnya terdapat truk dari kepolisian, truk BASARNAS, dan juga truk – truk yang lain untuk mengantar para peserta, panitia dan juga pendamping pergi ke Telaga Menjer.

Di Telaga Menjer, peserta di bagi perkelompok yang akan diarahkan oleh panitia untuk menaiki perahu sesuai dengan kelompoknya. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk melepas lelah setelah mengikuti berbagai aktivitas selama dua hari sekaligus mempererat hubungan antarpeserta dari berbagai SLB.

Kebersamaan dalam kegiatan wisata tersebut juga menjadi pengalaman berharga bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Mereka dapat menikmati suasana alam, berinteraksi dengan teman-teman baru, serta memperoleh pengalaman belajar di luar lingkungan sekolah.

Wisata Naik Perahu di Telaga Menjer

Penutupan yang Penuh Makna

Setelah kembali dari Telaga Menjer, peserta melaksanakan ibadah, makan siang, dan melakukan packing. Rangkaian PPBK kemudian ditutup dengan Upacara Penutupan dan Pengumuman Pemenang di lapangan SLB Karya Bakti Wonosobo. Pada kesempatan ini SLB-B Dena Upakara berhasil membawa pulang 3 buah piala, yaitu:

  1. Juara 1 KIM Lihat

Menerima Piala Juara 1 KIM Lihat

  1. Juara 1 Meniti Bambu

Menerima Piala Juara 1 Meniti Bambu

  1. Juara 2 Pionering

Menerima Piala Juara 2 Pionering

Upacara penutupan menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan. Pengumuman pemenang memberikan apresiasi terhadap usaha dan semangat peserta dalam mengikuti berbagai lomba. Namun, lebih dari sekadar memperoleh kemenangan, seluruh peserta sesungguhnya telah menjadi pemenang karena mampu mengikuti kegiatan dengan semangat, keberanian, dan kemandirian.

Setelah upacara penutupan, kegiatan diakhiri dengan sayonara, pembongkaran tenda, dan bersih-bersih tempat. Seluruh peserta, pendamping, panitia, FORKOS, dan Dewan Kerja bersama-sama memastikan lingkungan perkemahan kembali bersih dan tertata.

Upacara Penutupan

 

FORKOS (Forum Anak Kreatif Kabupaten Wonosobo) adalah wadah partisipasi anak resmi di Kabupaten Wonosobo yang menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mengadvokasi pemenuhan hak-hak anak.

 

SEMAPHORE (atau semafor) adalah metode komunikasi visual jarak jauh yang menggunakan posisi tangan, bendera, batang, atau dayung untuk mengirimkan pesan atau sinyal.

 

KIM = Kemampuan Indera Manusia

Latihan atau permainan untuk mengasah ketajaman panca indera (melihat, mencium, meraba, mendengar, dan merasakan) serta memperkuat daya ingat anggota Pramuka. Permainan ini diciptakan oleh Baden Powell.

 

PIONERING (atau pioneering) dalam dunia Kepramukaan adalah keterampilan bangunan darurat menggunakan tongkat pramuka dan tali yang dirangkai sedemikian rupa menggunakan ikatan dan simpul yang benar.

Narasumber dan Penulis :

Angelina Eka Ratnawati, S.E

Guru Bina wicara SLB-B Dena Upakara – Wonosobo    

Artikulli paraprak
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INFO !!

spot_img
spot_img