Vivin yang sebelumnya dikenal dengan nama Vinta agar lebih mudah diucapkan bernama lengkap Vincentia Prasetya Anggraeni Pangestu. Ia lahir di Sleman pada tanggal 11 Desember 2001, sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di utara Kota Yogyakarta. Sejak kecil, ia telah menjalani hidup dengan perjuangan menghadapi tantangan demi tantangan hingga berhasil meraih gelar sarjana belum lama ini. Sebagai seorang Tuli, Vivin harus belajar memahami dunia dengan caranya sendiri bukan karena ia kurang mampu, melainkan karena dunia di sekitarnya belum sepenuhnya ramah terhadap perbedaan. Dari situlah, panjang perjalanan dimulai: perjalanan penuh usaha, penyesuaian, dan keberanian.
Ia pendidikan dimulai di SLB/B Dena Upakara Wonosobo pada tahun ajaran 2005/2006 hingga lulus SD pada tahun 2015. Di sana, Vivin tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga mengenal jati dirinya sebagai seorang Tuli. Kenangan masa itu masih melekat, termasuk pergantian kepala sekolah yang sempat ia alami dari Pak Pras, kemudian Bu Mari, hingga Pak Anton. Lingkungan tersebut menjadi fondasi penting dalam proses tumbuh kembangnya.

keceriaan ketika masih di SLB/B di Dena Upakara
Setelah lulus SD, Vivin mengambil langkah besar: melanjutkan ke sekolah umum. Keputusan ini bukanlah hal yang mudah, karena ia harus memasuki lingkungan yang didominasi oleh orang Dengar. Namun, dukungan orang tua menjadi kekuatan utama. Mereka bahkan aktif mencari sekolah yang bersedia menerima Vivin, hingga akhirnya ia melanjutkan pendidikan di SMP Kanisius Pakem yang ada di kota kelahiran Vivin.
Di sana, Vivin menemukan lingkungan yang cukup mendukung. Guru dan teman-temannya menerima dengan baik, bahkan ada seorang guru yang pernah mengajar di SLB/B Dena Upakara, yaitu Bu Titik, sehingga sedikit banyak memahami kebutuhannya. Dukungan ini membuat masa SMP terasa menyenangkan, meskipun tetap melukiskan berbagai tantangan.
Salah satu tantangan yang dihadapi Vivin adalah sesi mendengarkan dalam pelajaran Bahasa Inggris. Ia harus berkali-kali menjelaskan kepada guru bahwa dirinya tidak dapat mendengar. Akhirnya ia mengikuti pembelajaran dengan metode membaca gerakan bibir ( read lip ) hanya dengan guru. Selain itu, pada masa itu aturan sekolah yang tidak memperbolehkan membawa HP juga menjadi kendala tersendiri. Suatu hari ketika ada pengumuman pulang lebih awal, teman-temannya bisa langsung menghubungi orang tua, untuk minta dijemput sedangkan Vivin harus meminta bantuan teman, pegawai tata usaha, atau meminjam HP guru untuk mengabari orang tua yang sibuk bekerja penuh waktu .
Di masa SMP, Vivin juga berada dalam tahap penyesuaian dengan lingkungan orang Dengar. Ia belajar mengikuti kebiasaan yang sebelumnya asing, seperti menyanyikan lagu kebangsaan, memahami komunikasi yang disampaikan secara lisan, hingga mencatat sambil memperhatikan penjelasan guru. Proses ini tidak mudah, tetapi perlahan ia mampu beradaptasi. Bahkan, saat melanjutkan ke SMA, Vivin sudah terbiasa dengan lingkungan tersebut dan hafal lagu “Indonesia Raya” serta “Maju tak Gentar” karena kebiasaan membaca bibir saat menyanyikan lagu wajib nasional di sekolah.
Vivin juga merasa beruntung dikelilingi oleh teman-teman yang peduli. Mereka sering membantu dengan menunjukkan catatan saat guru menjelaskan, juga menyampaikan kepadanya ketika ada informasi penting yang diumumkan melalui speaker. Guru-guru pun memberikan dukungan penuh dan bahkan pernah mempercayainya untuk mewakili sekolah dalam lomba menulis cerpen, meskipun hasilnya belum membuahkan kemenangan.

Di balik berbagai tantangan tersebut, ada pula pengalaman berkesan yang tak terlupakan. Salah satunya terjadi saat kegiatan camp pramuka di SMP. Dalam satu kelompok yang terdiri dari 12 orang, Vivin mengikuti kegiatan Jumat malam di mana mereka diminta menutup mata dan berjalan sambil berpegangan bahu. Ketika penutup mata dibuka, tiba-tiba terjadi kesurupan massal di kelompok lain. Suasana menjadi sangat mencekam. Meskipun kelompok Vivin tidak mengalami hal tersebut, mereka tetap merasa takut hingga menangis. Guru IPA kemudian datang dan mendampingi kelompok Vivin untuk kembali, sambil menyanyikan lagu religius yang belakangan baru ia ketahui dari temannya. Setelah itu, mereka semua akhirnya tidur bersama di aula. Keesokan harinya, mereka pun buru-buru pulang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan yang membekas dalam perjalanan sekolah Vivin. Dan Vivin pun lulus SMP pada tahun 2018 dan melanjutkan pendidikan ke SMA Stella Duce 2 di Yogyakarta.
Memasuki masa SMA, Vivin kembali menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Ia harus menyesuaikan diri dengan pelajaran yang semakin banyak serta lingkungan pertemanan yang tidak selalu mendukung. Ada teman yang baik, tetapi ada pula yang kurang bersikap ramah, sehingga ia sempat mengalami kesulitan. Pada masa itu, ia juga pernah kehilangan semangat hingga lebih sering membolos dan absen kegiatan ekstrakurikuler. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dukungan orang tua terutama ibunya membantunya bangkit kembali.

Saat naik ke kelas 11, terdapat persyaratan poin dan nilai untuk dapat melanjutkan ke kelas 12. Hal ini menjadi titik balik bagi Vivin untuk kembali fokus mengikuti pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Namun, ketika semuanya mulai berjalan lebih baik, pandemi COVID-19 datang dan sistem pembelajaran berubah menjadi pembelajaran jarak jauh. Meski begitu, Vivin tetap berkomitmen untuk mengikuti kelas hingga selesai.
Saat Vivin terlibat dalam proyek penerjemahan alkitab ke bahasa isyarat
Perjalanan Vivin berlanjut hingga ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dan ia berhasil menyelesaikan studinya serta diwisuda pada September 2025. Dari seorang anak di SLB, kini ia tumbuh menjadi pribadi yang mampu beradaptasi di berbagai lingkungan. Setelah lulus, Vivin sempat terlibat dalam proyek penerjemahan Alkitab dalam bahasa inovatif sebuah kontribusi penting bagi komunitas Tuli. Meskipun proyek tersebut terhenti, ia tetap melanjutkan langkahnya dan kini bekerja sebagai admin di Pusbisindo DIY.
Dari seluruh perjalanan hidupnya, Vivin menyadari bahwa menjadi Tuli bukanlah sebuah kelemahan. Tantangan memang selalu ada, tetapi justru di situlah kekuatan terbentuk. Ia juga menyampaikan pesan kepada teman-teman Tuli lainnya bahwa melanjutkan pendidikan di sekolah umum memang tidak mudah. Akan ada perbedaan, bahkan mungkin perlakuan yang kurang menyenangkan. Namun hal itu bukan karena kekurangan dalam diri mereka, melainkan karena masih ada orang yang belum belajar memahami dan menghargai perbedaan.
Kisah Vivin menunjukkan bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk bertahan, beradaptasi, dan tumbuh.
Ditulis oleh Enny Soeharto (Onik), Alumni DU 1987
Berdasarkan hasil wawancara dengan Vivin






