Seiring waktu, mie ongklok berkembang dari makanan sederhana menjadi simbol daerah. Teknik memasak menggunakan keranjang bambu yang disebut “ongklok” tetap dipertahankan sebagai identitas utama. Proses ini bukan hanya metode memasak, tetapi juga bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Mie ongklok juga menjadi contoh nyata akulturasi budaya, memadukan pengaruh Tionghoa dan Jawa dalam satu hidangan yang kini diterima oleh semua kalangan.
![]() |
![]() |
|
Cara memasak menggunakan keranjang bambu |
Mie ongklok Longkrang, lokasi dekat SLB/B Dena Upakara |
Mie ongklok Pak Tris seberang Hotel Surya Asia
Sumber foto: google
Memasuki era modern, mie ongklok tidak lagi dimiliki oleh satu tokoh, melainkan menjadi warisan kolektif masyarakat. Para pedagang, keluarga penerus, serta pelaku usaha kuliner bersama-sama menjaga eksistensinya. Dari generasi ke generasi, mie ongklok tetap bertahan tidak hanya sebagai makanan, tetapi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan Wonosobo.
Sejarah mie ongklok adalah perjalanan panjang yang melibatkan banyak tangan dan generasi. Dari Kwa Tjin Hwat sebagai perintis, Kwa Ping An sebagai penerus, hingga Muhadi sebagai pengembang modern semuanya berkontribusi membentuk mie ongklok seperti yang kita kenal hari ini. Di setiap suapan mie ongklok, tersimpan sejarah, budaya, dan kenangan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Daftar Sumber
- Suraurakyat.com – Kwa Tjin Hwat: Tabib yang Meracik Mie Ongklok Pertama
- Epsos Regional – Cerita Unik di Balik Kelezatan Mi Ongklok, Kuliner Khas Wonosobo
- Indonesiakaya.com – Hangatnya Mie Ongklok, Sajian Khas “Negeri Para Dewa”
- Kumparan.com – Uniknya Rasa Mi Ongklok, Kuliner Tradisional Kebanggaan Warga Wonosobo
Enny Suharto (Onik) – Jurnalis







