Senin, Februari 23, 2026
No menu items!
spot_img
BerandaBerita AlumniPERTEMUAN ADECO KEDU

PERTEMUAN ADECO KEDU

       Pada tanggal 19 Oktober 2025 kami mengadakan pertemuan ADECO Kedu di rumah Mbak Naim (Alumni DU 1982) Purworejo. Ada 21 orang yang hadir,  termasuk Sr. Antoni, Sr. Agnes dan Bruder Agus. Kami disuguhi minuman teh jahe hangat dan snack ringan. Pertemuan ADECO Kedu diadakan setiap 3 bulan sekali. Pada waktu pertemuan, kami tidak pernah lupa memakai kaos seragam ADECO Kedu.

        Pertemuan diawali dengan doa pembukaan, lalu sambutan pertama dari Ketua ADECO Kedu ( Mas Bowo Alumni DB, 2000). Menyusullah sambutan dari Sr. Antoni yang bercerita tentang kesehatannya, bahwa kedua lutut Sr. Antoni pernah dioperasi karena tulangnya keropos dimakan usia. Alhamdulillah sampai sekarang masih sehat  dengan  umur 77 tahun dan bisa kembali mengasuh Adeco. Rambutnya sudah putih semua.

        Pertama-tama Suster mencoba menghafalkan nama-nama anggota ADECO Kedu. Itu penting ! Karena kalau “ tidak kenal maka tidak sayang” . Berhasil ! Suster dapat menghafal semua nama Adeco Kedu yang hadir.

        Suster bercerita lebih lanjut tentang awal mula sekolah kita di Wonosobo. Pada tahun 1938-1955 murid cowok dan cewek (campur) bersekolah di SLB/B Dena-Upakara. Tetapi tidak mudah bagi suster untuk mengasuh campuran antara murid cewek dan cowok, karena cowok banyak aktif bergerak dan suka nakal, minggat (kabur).

       Sementara itu suster berunding dengan bruder Caritas untuk mengambil alih murid tuli yang cowok. Bruder bersedia. Lalu bruder mempersiapkan diri membangun gedung sekolah dan asrama. Setelah siap, pada  tahun 1955  para murid cowok dipindahkan ke SLB Don Bosco. Namun murid kelas nol / P1 tidak ikut dipindahkan. Mereka masih tetap bersekolah di Dena Upakara. Setelah mereka naik kelas P2, mereka baru dipindah ke SLB Don Bosco. Lho, mengapa demikian ? Karena pada waktu itu pengasuh anak-anak balita pada umumnya adalah perempuan, yang bisa telaten mendidik anak-anak yang masih suka ngompol.  Baru pada tahun 1972  semua murid cowok kelas P1 langsung masuk di SLB Don Bosco tanpa melalui kelas P1 di Dena-Upakara lebih dulu.

       Selanjutnya suster mengharapkan bahwa ADECO perlu giat bekerja mencari nafkah dan hidup mandiri. Maka  setiap Adeco harus punya ketrampilan, misalnya menjadi penjahit, pelayan restoran, teknisi (ahli teknik), tukang kayu, tukang listrik, berjualan atau apalah. Jadi cleaning service pun jadi.

      Suster juga bercerita bahwa ada beberapa Adeco yang stres atau depresi. Apa sebabnya ? Itu karena mereka tidak bisa curhat. Tidak punya teman untuk omong-omong. Sendirian di rumah. Merasa sebal. Mereka tertekan lalu meledak menjadi stres. Kami tuli, tetapi otak pintar walaupun sunyi. Maka jangan suka menyendiri dan menangani sendiri. Jika mengalami tertekan, boleh curhat ke teman yang terpercaya biar lega dan plong.

       Kemudian sambutan dari Anto (Alumni DB 2011) Koordinator ADECO wilayah Kedu, yang berbicara tentang persiapan Reuni ADECO besok tanggal 30 Desember 2025 – 1 Januari 2026 dan tentang IKON (LOGO) ADECO Kedu. Pendaftaran dan pembayaran Reuni ADECO harus lunas dan beres.  Esti ( Sebagai Bendahara Adeco Kedu ) memberi laporan keuangan ADECO Kedu dan iuran sukarela.

Setelah itu kami menelusuri Sejarah ADECO Kedu, khususnya tentang para pejabat KETUA-nya.

    1. Pak Sri Wahono – Tahun 1998 – 2008
    2. Bu Eni – Tahun 2008 – 2012
    3. Bu Menuk – Tahun 2012 – 2016
    4. Pak Adi P. – Tahun 2015 – 2019
    5. Anto – Tahun 2019 – 2023
    6. Mas Bowo Tahun 2023 – 2027

      Setelah itu kami memberi kesemptan kepada Sr. Agnes untuk bercerita tentang pengalamannya. Pada tahun 1984 dia datang mengunjungi Sr. Cecilia, PMY yang adalah teman sepupu Sr. Agnes, bernama Harini Tri Prasasti. Sepupu itu kuliah di Universitas Sanata Dharma bersama dengan Sr. Cecilia PMY. Di situlah perkenalannya dengan Suster PMY Wonosobo. Waktu itu Sr. Agnes masih kuliah di Yogyakarta, belum menjadi Suster. Ketika kunjungan ke DU, berjumpa dengan Sr. Henricia sedang mengajar siswi Tuli. Saat itu Sr. Agnes tertarik untuk menjadi Suster sebagai guru mengajar Anak Tuli.

       Tahun 1986 menyelesaikan kuliah, lalu tahun 1987 melamar pekerjaan ke SLB/B Dena Upakara Wonosobo. Sr. Antoni mengijinkan Sr. Agnes menjadi guru bantu Bu Tukinah selama tahun 1987-1988. Pada tahun 1988 Sr. Agnes masuk Biara menjadi Suster dan tinggal di Novisiat sebagai postulan. Tahun 1989 sebagai Novis 1 dan Tahun 1990 sebagai Novis 2. Sr. Agnes masuk Prasetya pertama pada Tahun 1991.

        Sejak tahun 1991-1996 Sr. Agnes mengajar di Dena-Upakara. Pada tahun 1996-1997 Sr. Agnes meninggalkan Bu Tukinah karena harus ikut membuka sekolah SLB/G-AB Heller Keller Indonesia di Jalan Bismo no. 21 Wonosobo, yang dulu dipakai asrama guru yang masih lajang (belum menikah). Tahun 2002-2004 Sr. Agnes pindah ke Purworejo.

        Sr. Agnes studi metodologi Anak Buta Tuli di India selama 1 tahun pada tahun 2005 lalu pindah ke Yogyakarta mengajar di SLB/G-AB HKI Jln. RE Martadinata Yogyakarta tahun 2006-2008. Tahun 2008-2010 Sr. Agnes pindah ke Bandungan berkarya di rumah Retret Shalom, milik  Bruder FIC lalu tahun 2010-2011 pulang ke Wonosobo mengajar di SMP Bhakti Mulia. Kemudian Sr. Agnes pindah ke Gondang – Klaten, dan mengajar di SMP Pangudi Luhur – Wedi pada tahun 2012- 2018.

       Sr. Agnes pulang ke Wonosobo tahun 2018 – 2022 mengajar Agama, dilanjutkan dengan mengajar Artikulasi. Pada tahun 2022 setelah covid, suster pensiun lalu mendapat SK Pindah dari Kongregasi Suster PMY untuk berkarya di Purwodadi – Purworejo dan tinggal di tengah masyarakat. Sr. Agnes mendapat tugas fokus memperhatikan kaum Disabilitas. Tuhan mempertemukan dengan DPO (Difabel People Organisation), Itu Organisasi Kaum Difabel di Kecamatan Purwodadi. Ada rupa rupa disabilitas. Tidak hanya Tuli, tetapi juga Buta, bahkan ada juga yang ButaTuli.

     Karya di Purwodadi bukan karya institusional / kedinasan. Tetapi karya sosial kemasyarakatan. Berkegiatan dengan DPO (tingkat kecamatan) pada setiap hari Sabtu  kedua dalam sebulan dan KDD (Kelompok Disabilitas Desa) yang menyesuaikan dengan kepentingannya. Rumah mereka berjauhan, dan usia mereka pun berbeda. Mayoritas muslim dan dengan disabilitas berbeda. Sr. Agnes bersama teman-teman mencoba berkarya. Karya atas nama pribadi dan atas nama kelompok.

       Kemudian sambutan dari Bruder Agus. Dia bercerita tentang pengalamannya.Tahun 2000 sampai 2001 di Afrika, bertugas di kota Tambora – Tanzania, sebagai guru artikulasi dan guru mengetik dengan 10 jari. Di sana mereka berkomunikasi memakai 2 macam bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Swahili. Anak-anak SLB/B disana sangat rajin dalam belajar, bekerja di Asrama maupun di masyarakat Afrika. Terus Bruder Agus masih jadi guru di SLB/B Don Bosco Wonosobo Tahun 2002-2008.

        Tahun 2009-2018 mulai  dengan masa pensiun di Wonosobo, dengan sedikit tugas di Kantor yayasan Karya Bakti Wonosobo. Lalu Tahun 2019 sampai 2024 pindah dari Wonosobo ke kota Ruteng – Manggarai – Flores. Di sana Bruder Agus bertugas sebagai pembina orang yang sakit jiwa di Renceng Mose – Ruteng. Tahun 2024 bruder  kembali dari Ruteng ke Jawa dan menetap di Purworejo sebagai guru SLB/C Karya Bakti di Boro –  Purworejo.

         Setelah selesai  dengan acara rapat/pertemuan, kami makan siang sekalian istirahat. Tak lupa kami berfoto bersama teman-teman ADECO, Sr. Antoni, Sr. Agnes dan Bruder Agus.  Setelah pertemuan ADECO Kedu selesai, kami melanjutkan kunjungan ke rumah Pak Sri Wahono (alumni DB, Tahun 1971). Alhamdulillah dia sehat walafiat tapi kasihan tidak dapat melihat lagi, syukurlah dia bisa sedikit mendengar. Kalau mau bicara kepadanya harus mendekat di telinganya. Matanya sudah pernah dioperasi 2 kali karena katarak, tetapi gagal. Sayang ! Kami memberi tali asih yang berupa  sembako untuk Pak Sri Wahono sekeluarga, sekalian berfoto bersama. Kami pamit pulang, melanjutkan ke rumah pak Andrew.

       Kami ADECO Kedu mengunjunginya untuk silaturahmi dengan pak Andrew sekeluarga. Bingkisan buah-buahan disampaikan sebagai tanda  cinta, karena pak Andrew baru saja sembuh setelah opname di RS Panti Rapih – Yogyakarta. Dia operasi hernia pada tgl 30 September 2025. Waktu itu kami teman-teman ADECO Kedu tidak bisa menengoknya di RS Panti Rapih. Setelah cukup bersilaturahmi, kami pulang. .

Esti Sulistyaningrum  (Alumni DU – angkatan 2000)

ADECO wilayah Kedu.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INFO !!

spot_img
spot_img
- Advertisment -spot_img

posting terupdate

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
Aning pada Kisah Seorang Mirmo
dewi murtindah pada EDITORIAL
dewi murtindah pada EDITORIAL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya
Rudianto pada EDITORIAL
Rudianto pada EDITORIAL
Tabita Setyowati pada EDITORIAL
error: Content is protected !!