Kita, sebagai bagian dari ADECO yang pernah menimba ilmu di Wonosobo, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Perkebunan Teh Tambi beserta produk-produknya yang telah dikenal luas di seluruh Indonesia. Aneka varian teh yang dihasilkan—dipasarkan dengan merek Teh Tambi. Mungkin ada beberapa di antara kita yang pernah menikmati secangkir Teh Tambi di rumah, atau bahkan langsung di Perkebunan Teh Tambi saat berkunjung ke kebunnya. Di balik cita rasa teh yang khas itu, kawasan Tambi menyimpan sejarah panjang dan menarik. Di sinilah jejak perkembangan industri teh di Nusantara tumbuh, sejak masa kolonial Belanda, menjadikan Tambi bukan sekadar penghasil teh, tetapi juga warisan sejarah dan budaya agraris Indonesia. Di sini akan kuringkas bagaimana sejarah Teh Tambi.
Awal Mula Masuknya Teh ke Indonesia
Tanaman teh (Camellia sinensis) bukan tanaman asli Nusantara. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bibit teh pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1684 ketika Andreas Cleyer, seorang dokter dan pedagang VOC, membawa tanaman teh dari Jepang ke Batavia (kini Jakarta) untuk percobaan penanaman. Percobaan ini belum berhasil karena kondisi tanah dan iklim kurang sesuai. Perkembangan besar terjadi lebih dari satu abad kemudian. Pada 1824, pemerintah Hindia Belanda melalui kurator Kebun Raya Bogor, Johannes Elias Teijsmann, mendatangkan bibit teh Assam dari India untuk percobaan budidaya di daerah pegunungan Jawa Barat. Bibit ini terbukti lebih cocok dengan iklim tropis pegunungan di Nusantara. Meski percobaan dimulai pada 1824, budidaya teh Assam secara komersial baru dimulai pada tahun 1877, ketika pemerintah kolonial membuka perkebunan teh skala besar di Priangan (Jawa Barat), dan sejak itu industri teh mulai berkembang ke berbagai daerah pegunungan lain, termasuk kawasan Wonosobo (Tambi). Dengan keberhasilan budidaya teh Assam, teh pun berkembang menjadi salah satu komoditas penting pada masa kolonial.

Awal Munculnya Perkebunan Teh di Tambi
Keberhasilan budidaya teh di Pulau Jawa menarik perhatian pemerintah kolonial untuk memperluas perkebunan ke daerah yang memiliki iklim dan tanah lebih ideal. Dataran tinggi Dieng–Wonosobo menjadi salah satu lokasi yang dianggap sangat cocok karena berada di ketinggian dengan udara sejuk dan tanah vulkanik yang subur. Sekitar tahun 1865, sebuah perkebunan teh didirikan di kawasan Tambi, tepatnya di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Perkebunan ini awalnya dikelola oleh perusahaan Belanda bernama Bagelen Thee en Kina Maatschappij, yang juga mengelola unit kebun lain di Wonosobo, seperti Bedakah. Dari sinilah cikal bakal industri teh di wilayah Tambi berkembang, menjadi salah satu penghasil teh terbaik dari Jawa Tengah

(Sumber)

Perkembangan Setelah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan Perkebunan Teh Tambi beralih dari tangan kolonial Belanda kepada pemerintah Indonesia dan kemudian dikelola oleh perusahaan nasional, pada masa nasionalisasi dan restrukturisasi pasca-kemerdekaan, Tambi mengalami beberapa perubahan manajemen yang mengikuti arah pembangunan ekonomi. Kegiatan produksi tidak lagi berfokus hanya pada ekspor, tetapi juga mulai menyasar pasar domestik melalui modernisasi peralatan pengolahan dan diversifikasi produk—mulai dari teh hitam, teh hijau, hingga varian teh lokal pilihan. Berkat kualitas tanaman yang dipengaruhi oleh udara dingin serta tanah subur di dataran tinggi Dieng, Teh Tambi berkembang menjadi salah satu teh terbaik dari Jawa Tengah, serta memberi kontribusi penting bagi perekonomian dan pariwisata masyarakat Wonosobo.
Aneka The Tambi (Sumber)
Teh Tambi Masa Kini
Seiring perkembangan zaman, Tambi tidak hanya dikenal sebagai penghasil teh berkualitas, tetapi juga berkembang menjadi ikon agrowisata yang memadukan keindahan alam, sejarah, dan tradisi minum teh yang telah bertahan lebih dari satu setengah abad. Melalui pengelolaan modern, PT Tambi memproduksi beragam varian teh—mulai dari teh hitam, teh hijau, hingga teh merah—ditambah pengembangan museum dan wisata edukatif yang memperkenalkan proses budidaya dan pengolahan teh dari kebun hingga menjadi minuman. Branding Tambi mengangkat karakter khas Dieng: udara sejuk, tanah pegunungan yang subur, serta cita rasa teh yang unik dan tidak dimiliki daerah lain. Teh Tambi kini bukan hanya produk minuman, tetapi simbol identitas, warisan budaya, dan kebanggaan Wonosobo.


TIMELINE
Bila tertarik mengetahui sejarah Teh Tambi lebih jauh, bisa mengunjungi langsung ke Museum Teh Tambi yang baru diresmikan tanggal 9 September 2024 yang lalu. Detail mengenai lokasi dan seputar Perkebunan Teh Tambi bisa mengunjungi websitenya di sini.
Sumber:
-
- PT Perkebunan Tambi. (2025). High quality tea, fresh taste, from Tambi Plantation. Diakses 7 November 2025, dari https://www.pttambi.com/
- BRIN – Kebun Raya Bogor. (2023). Sejarah introduksi teh di Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Diakses dari:
https://kebunraya.id - Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung. (2007). Sejarah perkembangan teh di Indonesia. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
- Van Niel, R. (1959). Coffee and Tea Cultivation in the Priangan, 1830–1870. University of California Press.
- PT Tambi. (2024). Profil Perusahaan dan Sejarah Perkebunan Tambi. Diakses dari:
https://tehtambi.com - Leiden University Library / KITLV Digital Archive. (n.d.). Jacobus Eduard de Sturler Collection – Priangan plantation administration. Diakses melalui pencarian katalog:
https://digital.library.leidenuniv.nl - Naturalis Biodiversity Center (Herbarium Leiden). (n.d.). Herbarium database – Collectors Johannes Elias Teijsmann & Justus Karl Hasskarl. Diakses dari:
https://herbarium.naturalis.nl - Keller, W. (2016). The World Atlas of Tea: From the Leaf to the Cup. Firefly Books.
- Dinas Pariwisata Kabupaten Wonosobo. (2024). Agrowisata Perkebunan Teh Tambi. Diakses dari:
https://pariwisata.wonosobokab.go.id - (2025, November 7). Tambi Tea Museum. Diakses 7 November 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tambi_Tea_Museum
Ditulis oleh Enny Suharto (Onik) – Alumni DU 1987







