BerandaBerita AlmamaterPesan dan Kesan Enam Frater Keuskupan Agung Makassar Yang Live-In...

Pesan dan Kesan Enam Frater Keuskupan Agung Makassar Yang Live-In di LPATR Don Bosco (Karya Bakti) Tanggal 11-31 Januari 2026

 Fr. Alfredo Kristian (Fr. Edo)

Kehadiran SLB/B Don Bosco di tengah masyarakat menjadi bentuk kepedulian Gereja terhadap mereka yang memiliki disabilitas.  Tidak bisa dipungkiri anak tunarungu sering kali dihindari dalam masyarakat, tetapi SLB/B Don Bosco mengubah pandangan itu. Pendidikan yang diberikan sangat baik, tidak hanya sekedar teori tetapi juga praktek pekerjaan seperti menjahit, mebel,dan kejuruan besi. Pendidikan yang diberikan membuat siswa siap untuk hidup di masyarakat yang sering memandang mereka sebelah mata. Pengabdian guru yang luar biasa dan semangat siswa membuktikan bahwa komunikasi tidak hanya melalui suara tetapi juga ketulusan rasa.

Teruslah maju SLB Don Bosco, terus berkarya dan tetap nyalakan api kepedulian. Semoga SLB Don Bosco selalu menjadi pelita yang menerangi jalan anak tunarungu Indonesia.

Fr. Renaldi Willi Oktavian (Fr. Renal)

Menjalani kebersamaan selama tiga minggu di tempat ini merupakan sebuah pengalaman unik yang sangat berkesan bagi saya. Kehadiran saya dan rekan-rekan mahasiswa di sini merupakan bagian dari program pengabdian sosial kampus, namun apa yang saya dapatkan jauh melampaui sekadar tugas akademik. Pertama-tama, SLB Don Bosco menawarkan lingkungan yang sangat kondusif. Terletak di tengah panorama alam yang asri, tempat ini memberikan kenyamanan yang membuat siapa pun betah. Saya sempat tertegun melihat betapa luasnya area sekolah ini; sebuah fasilitas yang sangat memadai dan representatif bagi tumbuh kembang anak-anak.

Namun, daya tarik utama tempat ini bukanlah lingkungannya, melainkan interaksi dengan anak-anak tunarungu yang luar biasa. Bertemu mereka adalah pengalaman yang penuh sukacita. Meski komunikasi verbal menjadi tantangan tersendiri, wajah-wajah ceria mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Saya terharu melihat antusiasme mereka menyambut kehadiran kami tanpa rasa malu atau minder. Kesadaran mereka akan keterbatasan fisik justru bertransformasi menjadi kekuatan karakter yang memikat. Mereka sangat ramah, gemar bercanda, dan memiliki kebesaran hati yang tinggi jika terjadi perselisihan, mereka dengan cepat saling memaafkan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Kekaguman saya juga tertuju pada dedikasi para guru dan pengasuh. Mengajar anak-anak tunarungu membutuhkan kesabaran yang tak terbatas. Satu penjelasan sering kali harus diulang berkali-kali hingga mereka paham, dan disinilah ketulusan hati para pendidik diuji. Saya sangat mengapresiasi mereka yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Hebatnya lagi, beberapa guru di bidang kejuruan adalah alumni Don Bosco sendiri bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang dan kembali melayani. Hal yang paling mengejutkan bagi saya adalah keterampilan teknis yang mereka miliki. Di balik sunyinya dunia mereka, tangan-tangan mereka sangat terampil dalam menjahit, pertukangan kayu dan besi, memasak, hingga seni lukis dan olahraga. Prestasi yang mereka raih dalam berbagai perlombaan menjadi bukti bahwa semangat mereka untuk masa depan sangatlah besar.

Setelah merasakan sendiri dinamika kehidupan di tempat ini, saya ingin menyampaikan satu pesan reflektif: Jangan pernah lelah memberikan pelayanan yang tulus bagi anak-anak ini. Mereka tidak hanya membutuhkan instruksi formal, tetapi juga kasih sayang dan pendampingan yang utuh. Setiap anak di sini memiliki masa depan yang berharga dan layak untuk kita perjuangkan bersama.

Fr. Kristian (Fr. Tian)

Di bawah naungan langit Wonosobo yang berselimut kabut,  saya datang dengan perasaan campur aduk; penasaran, senang, ragu dan takut. Dalam hati saya bertanya “Bagaimana mengeja Kasih tanpa suara?  Saya yang terbiasa dengan kidung-kidung di Anging Mammiri, kini berdiri di tempat yang berbeda. Saya percaya ini adalah rencana Tuhan. Saya yakin Tuhan sedang ingin berbicara melalui jeda, bukan nada. Di sini, sunyi bukan berarti hampa; sunyi adalah ruang tunggu di mana mata menjadi jendela, dan tangan menjadi perpanjangan doa. Saya belajar bahwa menjadi calon imam bukan hanya soal pandai berkhotbah, tetapi soal kerelaan untuk menjadi “telinga” bagi mereka yang tak terdengar, dan menjadi “suara” bagi mereka yang terpinggirkan. Di Don Bosco, aku menemukan bahwa Allah tidak butuh pita suara yang merdu untuk menyatakan kehadiran-Nya. Ia hadir dalam getaran, dalam tatapan, dan dalam ketulusan yang melampaui segala bahasa manusia.

Saat pertama masuk kelas dan bergabung bersama mereka saya langusng merasakan keterpanaan yang luar biasa. Melihat jemari mungil mereka menari di udara, merangkai alfabet isyarat seolah sedang melukis pelangi di atas awan. Mereka menjadi guru-guru kecil saya yang tak memakai jubah, namun mengajari saya arti “mendengar” dengan jantung dan nurani. Bagi saya SLB/B Don Bosco bukanlah sekadar sekolah; ia adalah sebuah taman rahasia. Di sana, saya melihat tawa yang pecah tanpa perlu suara keras, yang lebih bicara banyak daripada seribu lembar teori. Anak-anak itu (dengan segala keterbatasan fisik) justru memiliki kelimpahan jiwa. Mereka tidak berpura-pura. Jika mereka senang, binar matanya adalah saksinya. Jika mereka rindu, genggaman tangannya adalah buktinya. Hati  saya luluh saat menyadari betapa seringnya saya yang “normal” ini justru tuli terhadap bisikan penderitaan sesama, dan justru bisu untuk menyuarakan kebenaran. Di Wonosobo yang dingin, kehangatan justru memancar dari ketulusan para guru dan kegigihan anak-anak yang menolak untuk dikasihani, melainkan memilih untuk dicintai dan dimengerti.

Namun, keindahan ini tidak tumbuh dengan sendirinya. Di balik binar mata anak-anak, ada tangan-tangan kokoh yang tak kenal lelah. Ada sosok guru-guru dan pengasuh yang adalah para “penerjemah Sabda” yang sesungguhnya. Mereka adalah pena yang sabar menuliskan harapan di atas kanvas keheningan. Saya sungguh terkesan dengan mereka; ketelatenannya yang melampaui tugas profesi, menunduk untuk menyamai tinggi hati mereka, dan bagaimana mereka merajut kesabaran saat kata-kata tak kunjung bertemu makna.

Juga kepada kepada para bruder (Bruder Adrian, Bruder Lukas dan Bruder Okta), saya melihat wajah Kristus yang melayani dalam kesederhanaan. Mereka adalah pilar-pilar doa yang tenang di tengah dinginnya Wonosobo. Terima kasih telah menerima saya bukan sebagai tamu, melainkan sebagai saudara. Keteguhan mereka menjaga warisan semangat Santo Yohanes Bosco menjadi cermin bagi saya sebagai seorang Frater; bahwa menjadi gembala berarti harus berani “mencium bau domba”, hadir sepenuhnya, dan mencintai kaum muda hingga mereka merasa dicintai.

Waktu saya mungkin terbatas, namun jejak yang tertinggal adalah abadi. Sebagai saran yang lahir dari kedalaman refleksi ini, biarlah SLB/B Don Bosco terus menjadi “Rumah Cahaya”. Tetaplah memandang setiap anak sebagai mahakarya Tuhan yang unik, bukan sebagai kekurangan yang perlu diperbaiki, melainkan sebagai misteri yang perlu disyukuri. Kepada pendidik, pengasuh dan para karyawan, jangan pernah lelah merawat kesabaran. Sebab di setiap isyarat yang kalian ajarkan dan kerjakan kalian sedang menanam benih martabat di jiwa mereka. Semoga sekolah ini tetap menjadi harapan bagi banyak orang. Dan, semoga bruder FC terus berkembang dan menjadi saksi nyata kasih Allah untuk dunia ini.  Terima kasih, Don Bosco. Terima kasih, Wonosobo. Saya tinggalkan sepotong hati saya di sini, agar suatu saat nanti, saya punya alasan untuk kembali dan merayakan sunyi yang telah menjadi lagu paling indah dalam hidup saya.

Fr. Klaudius Regis Selang (Fr. Regis)

“Deus Caritas Est,” “God is Love,” “Allah adalah Kasih.” Semboyan dengan tiga bahasa yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama. Semboyan tersebut yang dihidupi oleh para Bruder Karitas, FC (Congregatio Fratrum Caritatis). Oleh karena besarnya kasih Allah itu maka hadirlah karya pelayanan bagi anak-anak tunarungu di SLB (Sekolah Luar Biasa) Don Bosco, Wonosobo. Saya sebagai seorang calon imam diosesan Keuskupan Agung Makassar turut merasakan ritme kehidupan selama kurang lebih tiga minggu di sekolah tersebut.

Kasih Allah itu sungguh saya rasakan melalui kebersamaan dengan para bruder FC( Bruder Adrian, Bruder Lukas, dan Bruder Okta), para guru, pengasuh asrama,  karyawan-karyawati, dan para siswa SLB Don Bosco. Pelayanan-pelayanan mereka yang tulus, totalitas, penuh kesabaran  dan kasih mencerminkan Kerajaan Allah yang konkret dalam realitas dunia fana ini. Tiada kebahagiaan dan sukacita yang lebih besar bagi para siswa untuk menerima diri sendiri, menerima cinta dari keluarga, para guru, pengasuh, dan dari siapa pun yang hadir dalam kehidupan mereka. Kedua nilai itu yang dapat menjadi fondasi bagi mereka untuk “Bertumbuh dewasa agar siap hidup dalam masyarakat, dengan dasar solidaritas, peduli pada disabilitas dan cinta kasih.” Semangat pendidikan yang saya jumpai, dan saya maknai dalam terang sabda Yesus Kristus, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, (Mrk. 10:14b)” membawa harapan kesatuan dalam keberagaman latar belakang keluarga besar SLB Don Bosco.

Semoga para bruder FC, para guru, pengasuh, karyawan-karyawati, dan terlebih khusus para siswa tetap semangat dan sehat selalu. Dalam segala keterbatasan dan dinamika hidup, semoga kita senantiasa diteguhkan untuk terus melangkah dan berjuang dengan penuh harapan. Tuhan memberkati, berkah dalem.

Fr. Dominggus Madeira Soares (Fr. Domi)

Syukur kepada Allah atas segala perbuatan-Nya yang terjadi dalam hidupku. Rasa syukur ini saya haturkan sebab program live-in yang kami laksanakan ini berjalan dengan lancar semata-mata karena dalam penyelenggaraan-Nya. Program live-in yang kami laksanakan di SLB Don Bosco bukanlah suatu rencana pemenuhan program kampus saja, melainkan bagian dari tugas perutusan kami kepada mereka yang dikucilkan. Pengalaman live-in di tempat ini bagi saya selain sebagai perutusan juga sebagai proses pemurnian panggilan. Secara pribadi saya kerap kali sulit memahami maksud yang mereka coba ungkapkan baik melalui Bahasa isyarat maupun artikulasi. Lama-kelamaan saya kemudian perlahan mempelajari Bahasa isyarat mereka dan mencoba memahami dengan teliti artikulasi mereka. Sering saya merasa apa yang saya sampaikan tidak dimengerti oleh mereka atau sebaliknya saya tidak mengerti apa yang mereka sampaikan. Kemudian saya mencoba menulis jika memang terasa sulit bagi mereka atau saya untuk berkomunikasi. Setelah bertemu dengan beberapa anak, saya mengamati bahwa tidak semua dari mereka memiliki artikulasi yang baik, ada juga anak yang artikulasinya sama sekali sulit dimengerti. Saya juga bertemu dengan anak yang selain tuna rungu juga sedikit memiliki cacat mental, untuk mengahadapi anak seperti ini diperlukan kesabaran yang besar. Saya juga senang dengan anak-anak yang bersemangat bercerita kepada saya, walaupun kebanyakan yang diceritakan tidak saya mengerti. Sebagaimana yang saya katakana anak-anak disini ramah dan bersemangat, ada satu pengalaman yang menurut saya sangat berkesan. Suatu Ketika saya keluar kelas dan lupa botol air minum saya ketinggalan di kelas, tiba-tiba ada seorang anak yang mengingatkan saya bahwa botol air minum saya masih ada di kelas. Mereka juga memperhatikan hal kecil seperti tali sepatu saya yang terlepas, meminjamkan saya payung karena hujan, dan banyak hal kecil lain yang membuat saya merasa bahwa tingkat kepedulian mereka tinggi. Mereka juga kebanyakan berbakat, saat bermain bola dengan mereka saya merasa minder, karena bola yang mereka bawa selalu meleset dari penjagaan saya. Selain olehraga beberapa anak juga dilatih untuk menjahit dan saya melihat beberapa karya mereka sangat bagus dan layak untuk dijual.

Harapan dan doa saya bagi SLB Don Bosco adalah semoga sekolah ini terus menjadi tanda bahwa anak-anak tuna rungu dapat mengejar mimpi mereka melalui Pendidikan yang mereka alami di sekolah dan di asrama. Saya juga sangat berharap agar semakin banyak guru yang mau mendampingi anak-anak tuna rungu. SLB Don Bosco sudah lama berdiri hingga sekarang itu menunjukkan kebutuhan akan sekolah ini masih tinggi, semoga Gereja sebagai orang tua terus memperhatikan keberlanjutan sekolah ini dan mendukung tenaga pelayan yang khusus bergerak dalam karya anak SLB.

Demikian sedikit Kesan dan pesan dari saya Fr. Dominggus atas pengalaman live-in yang saya alami di SLB Don Bosco. Sebagai penutup tak lupa saya menyampaikan terima kasih kepada para Bruder, Br. Lukas, Br. Adrian, dan Br. Okta yang telah menerima kami dengan sangat baik di tempat ini. Saya juga berterima kasih kepada para karyawan, pengasuh, para guru sekolah, dan Pak Agus selaku kepala sekolah SLB Don Bosco. Saya juga memohon maaf atas segala salah yang saya mungkin lakukan baik sengaja maupun tidak. Sekali lagi terima kasih, semoga Tuhan memberkati kita semua.

Fr. Heri Purno Engu (Fr Heri)

“DON BOSCO,” tulisan yang berwarna kuning menjadi tanda bahwa kami telah sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Senyum yang hangat diberikan kepada kami oleh Br. Lukas serta sapaan hangat dari Br. Adrian yang langsung menjamu kami di meja makan. Sederhana, namun memberikan kesan yang tertanam kuat dalam benakku tentang penerimaan yang hangat. “Selamat datang,” kata yang pertama kudengar dari mulut siswa di SLB B Don Bosco yang pada saat itu aku masih menebak-nebak kata apa yang disampaikannya. Baiknya bahwa Bruder yang memberitahukan apa yang mereka katakan sehingga aku tahu bahwa kata yang dia ucapkan adalah salam perjumpaan.

“Nama saya Frater Heri,” itu adalah kalimat pertama yang saya  ucapkan saat berada di dalam kelas. Guru-guru yang sangat baik memberikan pendampingan dan pemahaman kepada para murid dan juga kepada saya. Setiap hari saya mendapat pengetahuan baru dan lebih luas lagi tentang kehidupan siswa di SLB  Don Bosco ini. Saya sangat bersyukur karena semua guru yang ada di SLB Don Bosco ini menerima kedatangan kami dengan baik dan memperkenankan kami untuk ikut dalam aktivitas belajar. Hospitality yang sangat kental melekat dalam setiap pribadi yang saya temui setiap harinya. Para bruder yang selalu menyapa dan tersenyum hangat, begitu pun dengan para guru serta para siswa yang selalu ingin menyampaikan hal yang mereka alami setiap harinya. Dengan begitu setiap hari saya merasa sangat diterima dan dicintai oleh keluarga besar SLB B Don Bosco.

Hospitality yang sangat kental melekat dalam setiap pribadi yang saya temui setiap harinya. Para bruder yang selalu menyapa dan tersenyum hangat, begitu pun dengan para guru serta para siswa yang selalu ingin menyampaikan hal yang mereka alami setiap harinya. Dengan begitu setiap hari saya merasa sangat diterima dan dicintai oleh keluarga besar SLB B Don Bosco. Pelayanan yang diberikan oleh para bruder, guru, pengasuh, karyawan dan karyawati di SLB Don Bosco ini merupakan sebuah tindakan yang sangat nyata dari slogan yang tertulis di atas logo Bruder Karitas “Deus Caritas Est.” Hal ini menyadarkan saya untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua orang terlebih kepada orang yang sangat membutuhkannya.

Semoga seluruh Keluarga SLB B Don Bosco dapat bergerak bersama untuk memberikan yang terbaik kepada para rekan-rekan kerja terlebih kepada anak-anak hebat ini. Agar mereka semua dapat menjadi pembawa kasih Allah bagi orang-orang di sekitar mereka. Terima kasih atas kebersamaannya dan seluruh dinamika yang sudah kita lakukan bersama-sama.

* * * * *

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INFO !!

spot_img
spot_img
- Advertisment -spot_img

posting terupdate

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
Aning pada Kisah Seorang Mirmo
dewi murtindah pada EDITORIAL
dewi murtindah pada EDITORIAL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya
Rudianto pada EDITORIAL
Rudianto pada EDITORIAL
Tabita Setyowati pada EDITORIAL