Memasuki Minggu Paskah ke-III pada tanggal 4 Mei 2025, perayaan Paskah mengangkat tema “Berbagi Kasih dalam Kebahagiaan Bersama Sahabat Disabilitas”. Acara ini diselenggarakan di Aula Gereja St. Fransiskus Asisi – Paroki Tebet, seusai misa pagi, dan telah dipersiapkan sejak satu bulan sebelumnya. Dalam suasana penuh kehangatan, berkumpullah para sahabat disabilitas dari berbagai latar, seperti tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, down syndrome, hingga autisme. Mereka hadir bersama para pembakti dan panitia Paskah yang dengan penuh cinta kasih menyambut kehadiran mereka.
Acara dikemas semenarik mungkin dengan rangkaian nyanyian rohani, permainan, dan sesi berbagi yang menggugah hati. Suasana begitu hidup dan menyenangkan! Semua hadirin ikut menyanyikan bersama lagu Pujian Tuhan penuh sukacita, lengkap dengan bahasa isyarat yang diperagakan oleh JBI (Juru Bahasa Isyarat), serta diiringi alunan piano yang dimainkan oleh seorang sahabat disabilitas ganda (tuna netra dan tuna daksa) yang duduk di kursi roda.
Keharuan makin terasa ketika empat orang peserta—dua tuna netra, satu tuna rungu, dan seorang ibu pendengar yang memiliki anak tuna rungu—berbagi kisah hidup mereka. Mereka menceritakan bagaimana awal mula menyandang disabilitas, perjuangan mereka dalam menjalani hidup, dan semangat yang terus menyala meskipun menghadapi berbagai tantangan. Salah satu dari mereka, seorang penyandang tuna netra, bahkan kini telah menjadi dosen. Ia bersaksi bahwa semua keberhasilan itu tidak lepas dari doa-doa yang selalu ia panjatkan dan yang selalu didengar oleh-Nya.
Ada satu cerita yang cukup menarik dan menyentuh datang dari seorang ibu yang memiliki anak tuna rungu. Putranya, bernama Odil, merupakan alumni SLB Pangudi Luhur (PL) dan tinggal di Bogor. Odil mengalami gangguan pendengaran akibat terjatuh dari kursi saat berusia enam tahun. Saat itu, ia tidak menangis—hanya diam. Dua tahun kemudian, orang tuanya mulai menyadari ada yang tidak biasa. Suatu hari ketika cuaca sangat buruk, hujan deras disertai petir menyambar-nyambar, Odil tetap asyik bermain di lantai tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Dari situlah muncul kecurigaan yang akhirnya membawa mereka ke dokter. Diagnosis pun keluar: Odil mengalami gangguan pendengaran. Meski sempat merasa sedih, sang ibu tidak berputus asa. Ia segera mencari informasi tentang SLB (Sekolah Luar Biasa), hingga akhirnya Odil bersekolah di PL dan berhasil lulus. Kini, Odil sedang menjalani magang selama enam bulan di sebuah hotel. Jika lolos uji kerja, ia akan diterima bekerja di hotel.
Setelah sesi berbagi dari keempat narasumber selesai, acara dilanjutkan dengan kegiatan kelompok yang kreatif dan seru. Lima kelompok, masing-masing terdiri dari tujuh orang, diminta untuk berkreasi membuat baju dari bahan koran dengan tema yang harus dijelaskan. Setiap kelompok dibekali setumpuk koran, satu selendang, satu gunting, dan satu gulung selotip. Saya, bersama Muljawan, Enyk, Yunita, Ayu, Lili, dan Barus—satu-satunya anggota tuna netra di kelompok kami—berada di kelompok nomor dua. Kami berdiskusi menentukan tema baju yang akan kami buat. Setelah berembuk, berhubung masih dalam suasana Paskah, kami sepakat mengangkat tema “Yesus Memanggul Salib dan Veronica yang Mengusap Wajah-Nya”.

Saya dan Muljawan ditunjuk menjadi model. Muljawan berperan sebagai Yesus, dan saya sebagai Veronica. Waktu yang diberikan hanya 30 menit, jadi kami langsung bergerak cepat. Kami mulai memotong-motong koran, lalu menempelkannya pada tubuh Muljawan, membentuk baju, janggut, rambut, kumis, mahkota duri, bahkan kayu salib, semua dari koran. Pada badan saya dililitkan selendang sebagai kostum Veronica.
Kami pun berdiri mengenakan kostum “kebesaran” hasil karya kami. Yunita, salah satu anggota kelompok kami, maju ke panggung untuk menjelaskan makna tema baju kami. Setelah itu, kami diminta oleh panitia untuk berjalan memutar bak foto model seperti peragaan busana. Muljawan memanggul salib dari koran, lalu terjatuh berlutut, dan saya menghampiri untuk mengusap wajahnya menggunakan sehelai koran sebagai simbol kain Veronica hingga wajah Yesus tampak di kain Veronica. Akting kami tampaknya berhasil menghibur karena para penonton tertawa dan bertepuk tangan dengan riuh.


“Yesus Memanggul Salib dan Veronica yang Mengusap Wajah-Nya”.
Wuuuih akhirnya tibalah waktu penilaian. Dewan juri yang terdiri dari panitia Paskah dan para pembakti kemudian memberikan nilai dari 1 hingga 5 untuk setiap kelompok. Setelah proses voting, diumumkan bahwa kelompok nomor dua—kelompok kami—keluar sebagai pemenang! Horeee! Rasanya bahagia sekali bisa menang dan menerima hadiah.

Sebagai penutup acara, semua peserta mendapatkan satu goodie bag keren berisi satu set pemanas gelas lengkap dengan colokan listrik, biskuit, dan gantungan kunci. Meski lelah, hari itu sungguh menyenangkan. Acara Paskah berlangsung sukses dengan meriah dan penuh sukacita.

Terima Kasih
Dari : Akiun (Alumni DU ’87) – ADECO JABODETABEK