Pada tanggal 29 Agustus 2025 almarhumah bu Haryati (DU, 1971) berpulang menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa setelah mengalami sakit keras dengan komplikasi penyakit. Dia meninggalkan suaminya pak Prabowo (DB, 1971) yang menetap di Mojokerto dan 3 anaknya.

Almarhumah bu Haryati terlahir pada tanggal 28 Februari 1955 di Imogiri- Bantul, Yogyakarta adalah sosok Tuli yang ulet, disiplin, pekerja keras, pemberani dan rajin bekerja, hobbynya jalan-jalan / wisata dan berenang. Semasa sekolah di Dena Upakara, dia disebut jago olah raga (atlit) atletik, renang dan volley. Seringkali dipanggil untuk mengikuti kompetisi setingkat Kabupaten Wonosobo dan telah menyumbangkan trophy (piala) dan medali untuk Dena Upakara. Posturnya tinggi semampai. Dia pun senang bermain sandiwara dan aktif mengikuti acara kegiatan2 ADECO Yogyakarta.
Alm. Bu Haryati sedang membagikan sembako pd tukang becak di jln. Timoho – Yogyakarta, April 2025
Sebelum menikah, alm. Bu Haryati bekerja sebagai penjahit di Susteran Ganjuran, di Bantul. Berangkat kerja dengan naik sepeda. Dia pernah menjadi anggota organisasi PERTRY (Persatuan Tuna Rungu Yogyakarta ) tahun 1975 – 1980. Kalau bepergian dari Bantul ke kota Yogyakarta naik angkutan umum.
Setelah mempunyai cucu-cucu yang sudah besar, pada tahun 2018 dia pindah ke Yogyakarta untuk membantu suaminya yang sudah pensiun, dengan mencari nafkah sebagai penjahit. Alm. Bu Haryati langsung mendapat pekerjaan sebagai penjahit di daerah Nologaten , tidak jauh dari rumah anak sulungnya perempuan. Dia menumpang di rumah puteri sulungnya itu. Dia bercerita bahwa kerasan bekerja di situ, pendapatannya cukup. Dia menjadi anggota Credit Union (CU) ADECO. Dia senang dapat menabung dan dapat pula meminjam uang CU ADECO untuk keperluan rumah tangga, dia juga pernah pinjam uang untuk renovasi rumahnya di Modjokerto. Dia disiplin rajin menyetorkan angsuran pinjaman, bunga, simpanan wajib dan menabung. Dia berusaha belajar mengelola keuangan rumah tangganya.
Setelah bu Haryati meninggal dunia, simpanan pada buku rekening atas namanya diurus oleh pengurus CU ADECO Yogyakarta, kemudian dikirimkan ke CU PUSAT di Jakarta melalui CU LESTARI Wonosobo untuk mendapatkan DAPERMA (Dana Perlindungan Bersama) atau ASURANSI JIWA. Sesuai dengan form pendaftaran anggota, almarhum bu Haryati menyebutkan ahli warisnya ialah puteri sulung. Maksudnya jika meninggal akan memberikan simpanan uangnya untuk ahli warisnya si puteri sulung itu. Berdasarkan syarat yang harus dipenuhi oleh anggota CU ADECO untuk ahli waris agar dapat menerima DAPERMA, anggota wajib membayar uang simpanan wajib setiap bulan sekali per Rp. 15.000,- / Rp. 20.000,- (menurut kemampuan), secara teratur dan tidak pernah absen atau macet dan tidak sedang dalam proses meminjam uang (pinjaman sudah lunas). Apabila jejak rekord anggota terhadap simpanan wajib CU ADECO kurang atau tidak memenuhi persyaratan, maka ahli waris tidak bakal bisa diberi asuransi jiwa. Untunglah ahli waris almarhumah bu Haryati dinyatakan berhak menerima uang sejumlah 12 (dua belas) juta rupiah…..! Dengan demikian ahli waris tersebut sudah menerima Daperma dari pengurus CU ADECO. Kemudian buku rekening (buku Tabungan) atas nama alm. Bu Haryati ditutup.

Dia curhat pada saya bahwa pandemi Covid 19 yang menyebabkan kesulitan hidupnya. Berhubung ada komorbid yaitu tensi tinggi maka dia tidak boleh divaksin. Karena tidak divaksin, anak-anaknya melarang tidak boleh beraktivitas di luar, berarti tidak bisa bekerja menjahit di luar lagi. Dia belum pernah divaksin sampai meninggalnya. Pendapatan dari hasil pekerjaan menjahit cenderung menurun.
Pada mulanya alm. Bu Haryati merasa sakit perut, lalu diperiksa ke dokter umum, diberi obat tetapi tidak berefek baik, malah sesak napas. Lantas segera dilarikan ke Rumah Sakit Panti Rapih dengan bonceng motor dikendarai puteri sulung dengan cepat….terpaksa ngebut. Setiba di RS Panti Rapih, langsung masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Segera dipasang oksigen untuk pernapasan padanya akan tetapi tidak membantu, sesak napasnya tetap meningkat, lalu dipasangkan dengan mesin pernapasan khusus begitu masuk di ruang Intensive Center Unit (ICU). Dia tidak diperkenankan dikunjungi siapapun kecuali keluarga terdekat. Di ICU, dilakukan pemantauan dan pemeriksaan atas tubuhnya secara intensif oleh dokter spesalis Jantung dan dokter spesialis Internis (penyakit dalam).
Menurut keterangan dari puteri sulungnya, sejak dulu mengidap hipertensi. Sewaktu di Modjokerto dia rutin kontrol dokter di Rumah Sakit. Setelah pindah ke Yogyakarta, berhenti kontrol dan tidak minum obat hipertensi dalam waktu lama. Padahal sebenarnya harus rutin minum obat hipertensi selama hidup. Dia pindah ke Yogyakarta tahun 2018, tahun berikutnya terjadi pandemi Covid19, berhubung dia komorbid hipertensi, setelah diukur tensinya ternyata tensinya tinggi melampaui batas maka tidak divaksin dan tidak bisa keluar rumah. Akibat dari hal tersebut, dia menderita komplikasi penyakit yaitu jantung dan ginjal. Setelah seminggu lebih opname di RS Panti Rapih dengan akses BPJS dia harus pindah, berhubung anggarannya tidak mencukupi, maka dia dipindahkan ke RS Akademik UGM dengan tetap di bawah perawatan dokter spesialis jantung yang juga praktek di RS Panti Rapih. Setelah cukup membaik, dia boleh pulang ke rumah di Nologaten..
Setelah tersiar berita bahwa alm.bu Haryati sudah boleh pulang ke rumah, dalam kesempatan pada tanggal 31 Juli 2025 rekan kami bu Tabita mengajak saya dan mas Giek diantarkan Sugiarto dengan naik mobil ke rumah puterinya di Nologaten. Setiba di depan rumah, kami melihat alm. Bu Haryati sedang berjemur di bawah sinar matahari. Dia menyambut kami datang menjenguk. Dia bercerita tentang pengalaman sakitnya dan masalah pembayaran BPJS. Tampak badannya kurus sekali, wajahnya pucat. Kami berempat prihatin melihat kondisi badannya yang sudah terserang penyakit berat. Bu Tabita memberikan minuman kesehatan untuknya guna menambah napsu makan. Sekitar 2 jam kami mengobrol dan memberi semangat padanya.

Sekitar 2 minggu kemudian Sr. Antoni mengkontak saya, minta tolong mengantarkan Suster menengok alm. Bu Haryati di rumah. Pada tangggal 14 Agustus 2025 terlebih dahulu saya membelikan oleh2 buah2an untuk alm. Bu Haryati yang dipesan Sr. Antonie. Berhubung Suster sedang mengurus adiknya kontrol di RS Panti Rapih. Kami meluncur ke RS Panti Rapih dengan Bus kota Trans Jogja. Setelah urusan adiknya selesai, kami meluncur ke rumah alm. Bu Haryati, yang jaraknya tidak jauh.

Setiba di rumahnya di siang hari, rumahnya sepi, saya mencoba masuk ke dalam rumah mencari kamar tidur alm. Bu Haryati…. ketemu di kamar tidurnya di pojok belakang tanpa ventilasi, pengap, sempit…. Saya tuntun alm bu Haryati ke luar kamar. Dia berjalan sempoyongan, badannya makin kurus, pergelangan tangan kanan dibalut tali kain untuk menutup bekas lobang slang dari mesin monitor Jantung. Dia senang menyambut Sr. Antonie. Lama kami mengobrol ngalor ngidul terkait pengalamannya waktu sakit, kemudian ibu Besan ( ibunya menantu ) dan puteri sulungnya turut menerima kami. Disebutkan bahwa obatnya ada 9 (sembilan) macam. Waduuuh….banyak amat! Padahal dia kesulitan tiada napsu makan karena perutnya sering mual, tetapi harus minum obat itu. Setelah cukup puas, kami pulang dengan berdoa dalam hati untuk kesembuhannya. Kamipun sempat berfoto tetapi lupa belum memfoto oleh2 buah2an dari Sr. Antoni.
Tidak disangka begitu cepat dia drop dalam kondisi sangat menyedihkan. Dia jatuh sakit lebih parah, lalu dibawa ke RS Hermina, jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Dokter spesialis internist mengatakan bahwa dia harus menjalani cuci darah……. Ternyata sakit gagal ginjal! Menurut cerita puteri sulung bahwa ibunya tidak kuat menjalani cuci darah karena sakit sekali sampai menangis. Sehingga kondisinya semakin drop, denyutan jantung melemah. Dia menghembuskan napas terakhirnya dengan mata tertutup. Dia meninggal dunia dengan tenang pada tanggal 29 Agustus 2025 sekitar jam. 20.00. Suaminya pak Prabowo berencana mau menengoknya bersama anak2nya tetapi terlambat. Pak Prabowo segera memberitahu kabar duka kepada saya via WA. Saya sedih karena saat itu sedang berada di Jakarta untuk acara Pusbisindo di Badan Bahasa Indonesia. Maka tidak bisa melayat. Saya kehilangan Sri Haryati yang merupakan anggota “teladan” CU Adeco…!
Berhubung alm. Bu Haryati ber-KTP Modjokerto, maka jenazahnya dibawa ke Modjokerto dengan ambulan RS Hermina untuk dimakamkan. Sayang sekali……teman2 ADECO Yogyakarta tidak dapat melayat. Dari jauh kami mendoakan agar alm. Bu Haryati segera diampuni dosa2nya dan berbahagia damai di sisi Tuhan Maha Kuasa. Amin.
Ditulis oleh: Dita Rukmini ( DU, 1972/1973)
ADECO wilayah Yogyakarta.





