Selasa, Februari 24, 2026
No menu items!
spot_img
BerandaBerita AlumniStudi LanjutHENRY: PERJALANAN HIDUP DARI PURWOREJO KE JAKARTA

HENRY: PERJALANAN HIDUP DARI PURWOREJO KE JAKARTA

     Anggota Adeco Jabodetabek tentu tidak asing dengan sosok Henry—ketua Adeco Jabodetabek saat ini. Henry adalah suami dari Alvi Nurdina, alumni SLB/B Dena Upakara angkatan 2004. Pasangan ini telah dikaruniai dua putri cantik: Zilvania yang kini berusia 5 tahun dan Zefanya yang baru berusia 8 bulan. Henry, yang memiliki nama lengkap Henry Restya Susetya, lahir di Purworejo pada 25 Juni 1991. Sejak kecil ia tumbuh sebagai anak tuli, namun keluarganya selalu menanamkan keyakinan bahwa ia memiliki banyak kemampuan, bukan sekadar keterbatasan. Pada usia lima tahun, Henry mulai bersekolah di SLB/B Don Bosco pada tahun 1996, di kota sejuk Wonosobo, Jawa Tengah. Pada masa itu, SLB/B Don Bosco dipimpin oleh Pak Ratno. Di kelasnya terdapat 16 siswa.

Kolase satu kelas Henry ketika sekolah di SLB/B Don Dosco

        Setelah sepuluh tahun menempuh pendidikan dasar di SLB/B Don Bosco, Henry lulus pada tahun 2006. Di titik inilah sebuah babak baru dimulai—Henry memilih melangkah dengan berani ke sekolah umum. Orangtuanya bangga, namun juga merasa cemas karena Henry akan menjadi satu-satunya siswa tuli di sekolah umum. Apakah Henry mampu beradaptasi, berkomunikasi, dan mengikuti pelajaran yang sepenuhnya disampaikan secara lisan. Meski begitu, kedua orangtuanya memiliki keyakinan bahwa Henry berhak mendapatkan pendidikan akademik terbaik agar ia bisa menggali ilmu, menemukan bakat dan minat, mengasah keterampilan, dan tidak tertinggal dari teman-teman dengar.

      Henry kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Bruderan Purworejo pada tahun 2006–2009, sebelum meneruskan ke SMK Pangudi Luhur Muntilan dengan jurusan Teknik Kendaraan Ringan (Otomotif) pada 2009–2012. Setelah lulus SMK, ia memilih jenjang pendidikan yang berbeda arah—yakni Teknik Informatika di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2012, dan berhasil menuntaskan studinya pada 2017.

       Masa-masa bersekolah di lingkungan umum diakui Henry bukanlah perjalanan yang mudah. Sebagian besar guru menyampaikan materi sepenuhnya secara lisan, membuat Henry hanya dapat mengandalkan informasi yang tertulis di papan tulis atau di buku pelajaran. Suaranya yang kurang jelas pun sering membuat ia merasa kurang percaya diri, terutama ketika harus melakukan presentasi di depan kelas. Tidak hanya itu, ia juga harus berhadapan dengan mata pelajaran yang sama sekali baru baginya—seperti bahasa Inggris dan bahasa Jawa—pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan ketika bersekolah di SLB/B Don Bosco. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, orangtuanya mendampingi dan membantu menjelaskan materi yang sulit ia pahami, sehingga ia bisa tetap mengikuti pembelajaran dengan baik.

      Seiring berjalannya waktu, para guru dan teman-teman Henry mulai memahami kebutuhannya. Mereka berusaha menyesuaikan cara berkomunikasi—menggunakan tulisan, bahasa isyarat sederhana, hingga gerak bibir yang diperlambat agar lebih mudah dipahami. Henry pun aktif mengajak guru serta teman-teman sebaya untuk mempelajari sedikit bahasa isyarat, sehingga proses belajar menjadi lebih nyaman bagi semua pihak.

      Dukungan yang diberikan tidak berhenti di situ. Teman-temannya selalu siap membantu ketika Henry mengalami kesulitan, baik dalam memahami materi maupun dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Para guru juga menunjukkan kesabaran dan kepedulian yang besar, membuat Henry merasa lebih diterima dan dimengerti. Henry sangat bersyukur atas perhatian dan bantuan yang ia terima. Ia selalu mengingat bagaimana para guru, teman-teman, dan terutama kedua orangtuanya, terus mendorong, memotivasi, dan percaya pada kemampuannya selama menempuh pendidikan di sekolah umum.

       Henry juga rutin berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling untuk mencari solusi atas kesulitan yang ia hadapi di sekolah. Berkat dukungan BK, saat ujian listening bahasa Inggris—Henry diperbolehkan tidak mengikuti bagian tersebut. Dalam mengikuti pelajaran sehari-hari, ia mengandalkan materi tertulis dari buku dan catatan guru untuk memahami pelajaran. Di rumah, orangtuanya berperan sebagai guru kedua, membantu mengulang materi yang tertinggal hingga ia benar-benar menguasainya.

     Sedikit demi sedikit, rasa percaya dirinya tumbuh. Teman-temannya pun sering membantu menerjemahkan penjelasan guru, bahkan mempersilakan Henry menyalin catatan mereka. Untuk menutup kekurangan akses, Henry menyiapkan alat bantu sendiri, seperti aplikasi pengubah suara menjadi teks di ponselnya—terutama ketika sekolah belum menyediakan fasilitas aksesibilitas bagi siswa tuli.

      Di balik segala tantangan itu, Henry menyimpan banyak pengalaman indah yang membuat masa-masa di sekolah umum terasa bermakna. Ia masih ingat bagaimana guru-gurunya dengan sabar mendengarkan saat ia menyampaikan pidato atau presentasi dengan suara kurang jelas. Teman-temannya pun selalu mengajaknya belajar kelompok, berdiskusi, atau sekadar jalan-jalan bersama. Baginya, sekolah umum bukan hanya ruang belajar, tetapi tempat yang memperkaya hidup—memberinya ilmu, membentuk minat, dan melatih keterampilan hidup yang sangat berharga.

Henry dengan istrinya, Nurdina yang sama-sama diterima jadi PNS

        Setelah lulus kuliah, Henry merantau ke Yogyakarta dan bekerja sebagai staf admin media sosial di Bank CIMB Niaga (2017–2018). Ia menikmati pekerjaannya, namun memilih mengundurkan diri untuk fokus mempersiapkan diri mengikuti seleksi CPNS. Keputusan itu terbukti tepat. Pada tahun 2019 ia diterima sebagai CPNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setahun kemudian, ia resmi dilantik menjadi PNS setelah mengikuti pelatihan dasar di bawah kepemimpinan TNI. Kini, Henry telah mengabdi selama enam tahun. Ia tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta, menjalani kehidupan yang dibangun dari ketekunan sejak kecil.

Henry dengan teman-teman saat acara ASF yang diadakan kantor setahun sekali

       Perjalanan karier Henry tentu tidak lepas dari hambatan. Akses komunikasi menjadi tantangan terbesar—minimnya juru bahasa isyarat di berbagai kantor membuat proses kerja lebih berat bagi pegawai tuli. Namun, seperti halnya saat bersekolah dulu, Henry selalu mencari cara. Ia mengandalkan teknologi, strategi komunikasi, serta kemandirian dan kegigihan untuk tetap produktif.

        Untuk teman-teman tuli yang sedang mempertimbangkan melanjutkan pendidikan ke sekolah umum, Henry menyampaikan pesan yang sederhana namun mengena: “Doa dan kerja keras adalah jalan menuju kesetaraan. Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih cita-cita setinggi langit. Bersabarlah dan bersyukur atas apa yang dimiliki—bukan mengeluhkan apa yang tidak dimiliki.”

Keluarga Henry yang berbahagia

       Kisah Henry membuktikan bahwa akses bukan sekadar fasilitas fisik, tetapi keberanian untuk melangkah dan lingkungan yang mau memahami. Dari Purworejo hingga Jakarta, perjalanannya menjadi inspirasi bahwa setiap anak—termasuk tuli—berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan berhasil.

Ditulis oleh Enny Suharto (Onik), Alumni DU 1987

Berdasarkan wawancara dengan Henry

 

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INFO !!

spot_img
spot_img
- Advertisment -spot_img

posting terupdate

Recent Comments

dewi murtindah pada – ASA –
Aning pada – ASA –
Aning pada PENDERITAAN ELIZA
Aning pada TEMPE KEMUL
dewi murtindah pada TEMPE KEMUL
Aning pada Kisah Seorang Mirmo
dewi murtindah pada EDITORIAL
dewi murtindah pada EDITORIAL
dewi murtindah pada * Pelepasan Kerinduan Kita *
dewi murtindah pada ~Dena Upakara~
Aning pada ~Dena Upakara~
Andre Tjakra (Adeco Bandung dan ketua keluarga ADECO Bandung) pada Reuni Kecil Murid Pertama Saya
Rudianto pada EDITORIAL
Rudianto pada EDITORIAL
Tabita Setyowati pada EDITORIAL
error: Content is protected !!