Alvi Nurdina, yang akrab disapa Dina, lahir di Wonosobo pada 30 Agustus 1990. Dina adalah istri dari Henry, yang kisah perjuangannya telah dipublikasikan di MSMP pada edisi Desember lalu. Bagi pembaca yang belum sempat membacanya, artikel tersebut berjudul Henry, Perjalanan Hidup dari Purworejo ke Jakarta. Henry dan Dina adalah pasangan suami istri yang menginspirasi banyak teman tuli melalui perjalanan hidup mereka yang penuh proses perjuangan dan usaha. Saat ini, mereka telah dikaruniai dua orang putri yang cantik, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga mereka.

Perjalanan pendidikan Dina dimulai ketika ia masuk TKLB pada tahun 1995 di SLB/B Dena Upakara, Wonosobo, kemudian dilanjutkan pendidikan ke SDLB hingga lulus pada tahun 2004. Pada masa itu, sekolah dipimpin oleh Bu Mari sebagai kepala sekolah. Angkatan Dina merupakan salah satu angkatan dengan jumlah murid terbanyak dalam sejarah sekolah tersebut. Dina masih mengingat bahwa angkatannya dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Bawang Merah dan kelas Bawang Putih. Dina tergabung di kelas Bawang Putih dan ia sudah tidak terlalu mengingat jumlah maupun siapa saja teman sekelasnya saat itu.

Setelah lulus dari SDLB, Dina melanjutkan pendidikan ke sekolah umum. Ia bersekolah di SMP Bhakti Mulia Wonosobo, yang pada masa itu dipimpin oleh Suster Patricia sebagai kepala sekolah. Selanjutnya, Dina melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Mojotengah, Wonosobo. Memasuki sekolah umum menjadi pengalaman baru yang cukup menantang. Dina harus menyiapkan mental yang kuat agar dapat beradaptasi dengan lingkungan yang mayoritas adalah teman-teman dengar. Pada awal masa SMP, ia sempat mengalami beberapa hal yang kurang menyenangkan, terutama dalam hal komunikasi dan memahami pelajaran yang disampaikan secara lisan. Namun, Dina berusaha menjalaninya dengan sabar, tetap percaya diri, dan tidak merasa minder.
Orang tua Dina mungkin tidak selalu menunjukkan perhatian secara langsung karena kesibukan pekerjaan, namun mereka tetap memberikan dukungan yang nyata. Mereka memastikan Dina mendapatkan pendidikan yang baik, kebutuhan hidup terpenuhi, serta terus memberi motivasi agar ia tetap semangat belajar meskipun memiliki keterbatasan pendengaran. Selama bersekolah di sekolah umum, Dina banyak mendapat bantuan dari guru dan teman-temannya. Beberapa guru bersedia menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhannya, misalnya pada mata pelajaran bahasa Inggris, materi listening diubah menjadi reading. Teman-teman juga membantu saat kerja kelompok atau ketika Dina mengalami kesulitan memahami tugas. Meski dikenal pendiam, introvert dan cenderung berhati-hati dalam bergaul, Dina tetap mampu menjalin komunikasi dan mengikuti kegiatan sekolah dengan baik, termasuk saat di SMA.
Tantangan utama yang dirasakan Dina adalah keterbatasan akses komunikasi dan informasi secara lisan, yang dapat berpengaruh pada pelajaran, tugas, bahkan nilai akademik. Namun, Dina berusaha mengatasinya dengan rajin membaca berbagai buku dan referensi, serta belajar secara mandiri. Ia juga sering belajar bersama Pamannya yang berprofesi sebagai guru, yang membantu menjelaskan materi pelajaran yang belum ia pahami serta mendampingi dalam mengerjakan tugas dari sekolah.
Setelah lulus SMA, Dina melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Yogyakarta dan mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa. Pendidikan ini kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Setelah diwisuda dan memperoleh gelar sarjana, Dina mengikuti berbagai pelatihan yang berkaitan dengan pendidikan anak tuli di Jakarta, yang dapat diikuti oleh guru tuli maupun guru dengar. Selanjutnya, Dina melamar pekerjaan di SLB/B Dena Upakara, sekolah tempat ia menempuh pendidikan di masa kecil. Dina diterima tanpa melalui proses seleksi dan sempat mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari satu tahun. Pada tahun 2019, Dina mengundurkan diri karena ia diterima sebagai CPNS Guru di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bersamaan dengan diterimanya Henry sebagai CPNS.


(Pelatihan Peraturan Baris Berbaris) selama pelatihan dasar CPNS selesai
Saat ini, Dina telah berkeluarga dan tinggal di Bekasi. Ia bekerja sebagai guru di SLBN 7 Jakarta dan telah menjalani profesi tersebut selama enam tahun. Dalam dunia kerja, tantangan yang masih ia hadapi adalah keterbatasan akses informasi. Oleh karena itu, Dina belajar untuk berani bertanya agar tidak tertinggal informasi. Ia juga merasakan manfaat besar dari perkembangan teknologi saat ini, seperti grup WhatsApp dan aplikasi transkrip suara ke teks, yang sangat membantu kelancaran pekerjaan dan aktivitas sehari-harinya.
Dina berpesan kepada teman-teman tuli yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah umum agar tetap bersemangat dalam meraih mimpi, tidak mudah mengeluh, dan tidak menyerah pada keterbatasan. Ia terinspirasi dari kata-kata Helen Keller bahwa optimisme, harapan, dan kepercayaan diri adalah kunci untuk mencapai tujuan dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ditulis oleh: Enny Suharto (Onik) – Alumni DU 1983
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dina





